Aku menatap sang raja begitu membara, silaunya
sempat mengaburkan jelas pandangku. Sedianya angin tak malu-malu membuntuti
sang raja menjelajah. Partikel kecil ikut mengusik, sedari tadi bersamaan dengan
belaian angin. Berlalu, secepat itulah aku menghindarinya. Terburu takut dihambur
belaian angin, seolah menjadi partikel mikro padahal aku sangatlah makro. Sudahlah,
aku memang tidak se-mikro partikel. Dengan mudah mengusik, dengan mudah
terlarut, dan dengan mudah dihindari. Ah apa-apaan ini, aku sudah tak tahu lagi
bagaimana melanjutkan prolog tulisan ini, tak dapat lagi temui kalimat untuk menggambarkannya.
Kepekaanku memang
sudah lama lebur bersamaan leburnya kamu dari penglihatanku. Bukan seperti dahulu, ketika libur beberapa
hari saja sudah terasa sesak pabila aku tak bersua denganmu. Lalu bisakah kamu
bayangkan betapa sesaknya aku yang tak dapat menatapmu lebih dari satu minggu
mungkin, atau satu bulan, satu tahun? Yaah seberapapun lamanya itu, coba saja
untuk membayangkan kesesakkanku, kerinduanku akan dirimu. Di tambah pabila
hanya boleh aku satu-satunya pengagum dirimu lantas aku dengan sengaja
men-stalk kehidupan mayamu, tapi apa yang kutemui bukan hanya kamu. Melainkan kamu
dan beberapa perobek hatiku. Tapi iya, itu dahulu…
Ketika semua pengendalian diriku berfungsi normal, bahkan
teramat normal (menurutku) akan jauh menghapuskan segala tentangmu dalam
otakku. Bahkan lagi tidak hanya kamu yang terhapus, hampir seluruh identifikasi
rasa “peduli” itu hilang... *BERLALU* sudah sangat lama aku menaruh kamu
dalam-dalam, dan terhitung sudah cukup lama juga aku me-lalu-kan kamu. Namun tidak
begitu saja, aku hanya belum dapat memastikan kapan hitungan itu tepat *BERLALU*
Hei. Bebas bukan rasanya?
Kamu akan
dapat dengan mudah bertingkah laku yang katanya sesuai hatimu? Aku ikut senang,
setelah kamu dapat dengan leluasa menampilkan kamu yang apa adanya. Tidak tampil
sebagai manusia palsu yang sempat terpaut dan memaut aku dahulu. Haha, kamu
lebih terlihat tampan, keren, dan luar biasa tentunya. Setelah kebebasan itu
fix jadi milikmu, berarti sama saja aku adalah seorang yang pernah menahanmu
sesaat dalam kebebasan? Ops, maaf kalau aku sudah tanpa sengaja melakukannya.
Hei manusia palsu, aku
tidak pernah membencimu sekalipun aku selalu merasa sesak karenamu…
Hei manusia palsu, aku
tidak pernah menyesal pernah terpaut cukup dalam walau kau hanya sesekali
memautku…
Hei manusia palsu, hei
manusia palsu…
Waaa tapi sungguh sore ini aku benar tak lagi biasa
setelah aku mengulang kegiatanku membuntuti tingkah lakumu yang kini semakin
bebas. Sapaan itu memang tak sedikitpun membuatku iri dengannya, tapi entah
mengapa aku tak lagi biasa.
Yogyakarta, 29 Maret
2014
Primas Diah Ayu
Puspitasari

0 komentar:
Posting Komentar