Sabtu, 29 Maret 2014

Tak Lagi Biasa



Aku menatap sang raja begitu membara, silaunya sempat mengaburkan jelas pandangku. Sedianya angin tak malu-malu membuntuti sang raja menjelajah. Partikel kecil ikut mengusik, sedari tadi bersamaan dengan belaian angin. Berlalu, secepat itulah aku menghindarinya. Terburu takut dihambur belaian angin, seolah menjadi partikel mikro padahal aku sangatlah makro. Sudahlah, aku memang tidak se-mikro partikel. Dengan mudah mengusik, dengan mudah terlarut, dan dengan mudah dihindari. Ah apa-apaan ini, aku sudah tak tahu lagi bagaimana melanjutkan prolog tulisan ini, tak dapat lagi temui kalimat  untuk menggambarkannya.
 Kepekaanku memang sudah lama lebur bersamaan leburnya kamu dari penglihatanku.  Bukan seperti dahulu, ketika libur beberapa hari saja sudah terasa sesak pabila aku tak bersua denganmu. Lalu bisakah kamu bayangkan betapa sesaknya aku yang tak dapat menatapmu lebih dari satu minggu mungkin, atau satu bulan, satu tahun? Yaah seberapapun lamanya itu, coba saja untuk membayangkan kesesakkanku, kerinduanku akan dirimu. Di tambah pabila hanya boleh aku satu-satunya pengagum dirimu lantas aku dengan sengaja men-stalk kehidupan mayamu, tapi apa yang kutemui bukan hanya kamu. Melainkan kamu dan beberapa perobek hatiku. Tapi iya, itu dahulu…

Ketika semua pengendalian diriku berfungsi normal, bahkan teramat normal (menurutku) akan jauh menghapuskan segala tentangmu dalam otakku. Bahkan lagi tidak hanya kamu yang terhapus, hampir seluruh identifikasi rasa “peduli” itu hilang... *BERLALU* sudah sangat lama aku menaruh kamu dalam-dalam, dan terhitung sudah cukup lama juga aku me-lalu-kan kamu. Namun tidak begitu saja, aku hanya belum dapat memastikan kapan hitungan itu tepat *BERLALU*
Hei. Bebas bukan rasanya?
 Kamu akan dapat dengan mudah bertingkah laku yang katanya sesuai hatimu? Aku ikut senang, setelah kamu dapat dengan leluasa menampilkan kamu yang apa adanya. Tidak tampil sebagai manusia palsu yang sempat terpaut dan memaut aku dahulu. Haha, kamu lebih terlihat tampan, keren, dan luar biasa tentunya. Setelah kebebasan itu fix jadi milikmu, berarti sama saja aku adalah seorang yang pernah menahanmu sesaat dalam kebebasan? Ops, maaf kalau aku sudah tanpa sengaja melakukannya.
Hei manusia palsu, aku tidak pernah membencimu sekalipun aku selalu merasa sesak karenamu…
Hei manusia palsu, aku tidak pernah menyesal pernah terpaut cukup dalam walau kau hanya sesekali memautku…
Hei manusia palsu, hei manusia palsu…
Waaa tapi sungguh sore ini aku benar tak lagi biasa setelah aku mengulang kegiatanku membuntuti tingkah lakumu yang kini semakin bebas. Sapaan itu memang tak sedikitpun membuatku iri dengannya, tapi entah mengapa aku tak lagi biasa.

Yogyakarta, 29 Maret 2014
Primas Diah Ayu Puspitasari

0 komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 29 Maret 2014

Tak Lagi Biasa

Diposting oleh Primasdiahap di 01.19


Aku menatap sang raja begitu membara, silaunya sempat mengaburkan jelas pandangku. Sedianya angin tak malu-malu membuntuti sang raja menjelajah. Partikel kecil ikut mengusik, sedari tadi bersamaan dengan belaian angin. Berlalu, secepat itulah aku menghindarinya. Terburu takut dihambur belaian angin, seolah menjadi partikel mikro padahal aku sangatlah makro. Sudahlah, aku memang tidak se-mikro partikel. Dengan mudah mengusik, dengan mudah terlarut, dan dengan mudah dihindari. Ah apa-apaan ini, aku sudah tak tahu lagi bagaimana melanjutkan prolog tulisan ini, tak dapat lagi temui kalimat  untuk menggambarkannya.
 Kepekaanku memang sudah lama lebur bersamaan leburnya kamu dari penglihatanku.  Bukan seperti dahulu, ketika libur beberapa hari saja sudah terasa sesak pabila aku tak bersua denganmu. Lalu bisakah kamu bayangkan betapa sesaknya aku yang tak dapat menatapmu lebih dari satu minggu mungkin, atau satu bulan, satu tahun? Yaah seberapapun lamanya itu, coba saja untuk membayangkan kesesakkanku, kerinduanku akan dirimu. Di tambah pabila hanya boleh aku satu-satunya pengagum dirimu lantas aku dengan sengaja men-stalk kehidupan mayamu, tapi apa yang kutemui bukan hanya kamu. Melainkan kamu dan beberapa perobek hatiku. Tapi iya, itu dahulu…

Ketika semua pengendalian diriku berfungsi normal, bahkan teramat normal (menurutku) akan jauh menghapuskan segala tentangmu dalam otakku. Bahkan lagi tidak hanya kamu yang terhapus, hampir seluruh identifikasi rasa “peduli” itu hilang... *BERLALU* sudah sangat lama aku menaruh kamu dalam-dalam, dan terhitung sudah cukup lama juga aku me-lalu-kan kamu. Namun tidak begitu saja, aku hanya belum dapat memastikan kapan hitungan itu tepat *BERLALU*
Hei. Bebas bukan rasanya?
 Kamu akan dapat dengan mudah bertingkah laku yang katanya sesuai hatimu? Aku ikut senang, setelah kamu dapat dengan leluasa menampilkan kamu yang apa adanya. Tidak tampil sebagai manusia palsu yang sempat terpaut dan memaut aku dahulu. Haha, kamu lebih terlihat tampan, keren, dan luar biasa tentunya. Setelah kebebasan itu fix jadi milikmu, berarti sama saja aku adalah seorang yang pernah menahanmu sesaat dalam kebebasan? Ops, maaf kalau aku sudah tanpa sengaja melakukannya.
Hei manusia palsu, aku tidak pernah membencimu sekalipun aku selalu merasa sesak karenamu…
Hei manusia palsu, aku tidak pernah menyesal pernah terpaut cukup dalam walau kau hanya sesekali memautku…
Hei manusia palsu, hei manusia palsu…
Waaa tapi sungguh sore ini aku benar tak lagi biasa setelah aku mengulang kegiatanku membuntuti tingkah lakumu yang kini semakin bebas. Sapaan itu memang tak sedikitpun membuatku iri dengannya, tapi entah mengapa aku tak lagi biasa.

Yogyakarta, 29 Maret 2014
Primas Diah Ayu Puspitasari

0 komentar on "Tak Lagi Biasa"

Posting Komentar

 
Reaching Dream of the Past Blogger Template by Ipietoon Blogger Template
Cute Hello Kitty 2