Sabtu, 03 Mei 2014

Senja di atas Singapore Flyer



Ia meneguk air mineral dalam botol yang di genggamnya perlahan, di bawah rindangnya pepohonan taman, betapa segar air mineral itu diteguknya saat udara begitu panas. Diperhatikannya bergantian orang berjalan memenuhi trotoar, kadang banyak pula dari mereka alih-alih menyebrang di sela keruwetan jalan yang penuh sesak kendaraan, banyak juga yang sedang ber-hunting  ria menebarkan segala pose eksotis yang mereka punya.
Ada yang hilang.
Keningnya berkerut samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu yang hilang. Hanya saja ia tidak tahu apa yang hilang itu. Dan apakah sesuatu yang hilang itu penting untuknya. Ia menarik napas dalam-dalam. Di liriknya lagi segelintir orang di sebrang jalan. Mereka terlihat tertawa, saling tersenyum, gembira, bahkan kegembiraan itu meluruhkan segala keruwetan jalan yang sempat membuyarkan suasana damai di bawah pepohonan rindang tempat ia duduk.

Kebersamaan.
Biasanya wanita yang kini duduk menikmati seteguk air itu memang selalu terlihat bersama, bersama seorang yang  kini tak terlihat sedang bersamanya. Bola matanya yang coklat  masih menelusuri sekeliling taman, berputar membelakangi bangku. Lantas pergi berjalan menelusuri sungai. Entah kalut atau apakah yang ia rasa.

 Masih sama, sekerumunan orang tadi tetap bersendau gurau. Jauh berbeda dengan gadis penelusur sungai yang seolah sangat dan benar-benar kesepian, sendiri menikmati sepoi-sepoi angin di tengah waktu sang raja siang bergemerlap. Aneh, gadis tadi berjalan tanpa pernah melepas pandang dari kerumunan orang di sebrang jalan. Rautnya jelas tergambar, seakan berkata pada kerumunan orang bahwa ia merindukan kebersamaan. Seperti sediakala saat semua terlihat baik, penuh dengan senyum bahkan tawa kerap mengisi hari-harinya.

***

Rifaldi Laboru atau yang sering di panggil Aldi ini adalah bungsu dari dua bersaudara. Lelaki yang sudah hampir dua dekade mengecap manis pahitnya hidup dan juga sudah menghabiskan seperempat hidupnya untuk menetap dan tinggal di negeri sebrang ini sama seperti IT nerd pada umumnya. Dia yang gemar bermain dota, baca manga, dan nonton anime ini punya hoki yang sangat besar. Bagaimana tidak, lulus mengenyam pendidikan di SMA Kharisma Bangsa Tangerang, dia merantau ke Nanyang Technological University Singapore untuk mengambil title B. Eng nya di Computer Science.

Hoki nya lagi Aldi diterima di sebuah perusahaan di US sebelum lulus kuliah, karena itu membuat dia harus berangkat kesana tahun ini. Untuk  mengisi waktu luangnya sembari menunggu tempo hari dia berangkat ke US, dia bekerja di sebuah tempat yang cukup bergengsi di Singapore.

****

Genista Larasati, gadis manis penuh ambisi, lebih di kenal sebagai seorang yang misterius ini gemar jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Hal terindah menurutnya adalah kebersamaan. Sejak kecil Genis memang sudah di ajarkan mandiri oleh kedua orang tuanya, karena menjadi anak sulung akan setiap saat di contoh dan memberikan contoh untuk adiknya. Tentunya adalah contoh terbaik, oleh karenanya Genis terdidik menjadi seorang dengan ambisi tinggi. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga kini dia bernaung di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Nama Genista Larasati selalu berkibar membanggakan almamaternya.

Genis tak pernah absen mengikuti segala macam kompetisi, sudah banyak medali yang ia peroleh dalam beberapa kompetisi terakhir yang ia ikuti. Seperti INAICTA, GEMNASTIK, Imagine Cup 2013 dan kesibukannya mengurus segala kegiatan sagasitas (komunitas Karya Ilmiah Remaja) di Dikpora Yogyakarta. Beberapa tahun lalu saat masih duduk di bangku SMA Genis adalah perwakilan Yogyakarta untuk ikut OSN Matematika. Betapa berhasilnya dia dalam mengatur segala kemampuan dirinya untuk berkembang. Berhasil sebagai contoh terbaik untuk adikknya.

Kesibukan-kesibukannya kini juga semakin menjadi ketika ia dihadapkan dengan deadline proposal untuk mengikuti KP di NTU (Nanyang Technological University, Singapore). Padahal saat itu juga  ia sedang mempersiapkan diri untuk ikut dalam kompetisi IT local. KP di NTU ini adalah salah satu bagian list hidupnya yang sengaja ia tuliskan setiap tahun sebagai tolok ukur pencapaiannya. Genis memang tak pernah ragu dalam menuliskan segala mimpinya, mulai dari apa yang harus ia lakukan, dan seberapa besar usaha yang telah ia kerjakan.

***
Dear Genista Larasati,

Congratulation! This is for inform that your
 application for NTU – EEE Research
Attachment Programe (ERAP) is successful.

            Satu lagi keberhasilan Genis dalam mewujudkan satu per satu list hidupnya untuk berprestasi. Proposal Genis diterima dan ia akan bekerja selama tiga bulan di Nanyang Tecnology University Singapore sebagai Research Asistant. Pada bulan pertama, Genis mendapat English Course untuk mempersiapkan ERAP member yang belum terbiasa mengajar dengan bahasa Inggris.

            Hampir dua bulan berjalan Genis menjadi Research Asistant. Pekerjaan Genis memang tak banyak menghabiskan waktu, karena apabila ia sudah menyelesaikan tugasnya di lab dia diperbolehkan pulang. Hari itu Genis dapat menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Bertepatan dengan bulan puasa, Genis ingin menghabiskan waktu ngabuburit ke pasar Ramadhan yang berada di Geylang. Diajaknya Ifah sesama member ERAP yang kebetulan juga sangat antusias pergi ke pasar Ramadhan, mereka pergi berempat bersama dengan dua teman Ifah, Rama dan Aldi. Di situlah Genis pertama kali bertemu dengan Rama dan Aldi.

***

Dua bulan berlalu, karena sering kelebihan jam kosong Genis semakin sering jalan bersama Ifah, Rama, dan Aldi. Tapi entah kenapa Aldi menawarkan diri untuk mengajak Genis jalan bersama, tanpa Ifah dan Rama. Awalnya mereka mengikuti pengajian KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) bersama, lalu seusai pengajian Aldi mengajak Genis ke Singapore Flyer. Saat itu memang hanya iseng menunggu adzan maghrib dengan coba naik Singapore Flyer, dan senja begitu menawan.

“Wah sunsetnya kelihatan, padahal kan tadi mendung. Jadi cowok hoki banget sih Al…”
“Lo mau bikin gue jadi cowok yang lebih hoki lagi nggak? …… Jadi pacar gue yak Nis”

Hening seketika, dilapisi semburat senja yang perlahan di lahap tenggelam. Saat itu benar-benar hening. Genis yang sempat tak percaya bahwa Aldi yang tiba-tiba aneh mengajak dirinya untuk jalan hanya berdua pun masih tak dapat berkata-kata.

“Bilang dulu ama bokap gue, kalau beliau bilang yes, gue juga yes”

Saat itu hp Genis dan Aldi mati, saat tepat di atas Singapore Flyer. Oleh karena itu, esok harinya Aldi baru menghubungi ayah Genis di Jogja. Tapi betapa butuh keberanian besar untuk Aldi menelpon ayah Genis, karena bukan sekedar “nembak” tetapi sekalian meminta izin. Dengan bermacam pendahuluan kata dalam perbincangan singkatnya, akhirnya ayah Genis “Yaa!” ucapnya.

Tak lagi aku sunyi, sendiri di sini..
Tak lagi aku sepi, berjalan di sini..
Tak lagi aku takut, tertahan di sini..

Sekarang berkat senja di atas Singapore Flyer bersama Aldi, Genis sang gadis manis penuh ambisi ini tak lagi terusik bahkan terpelanting dalam deru nyanyian jalan yang sesak. Bahkan menurutnya penuh kebersamaan yang sangat ia harap. Namun kini tak lagi pilu, karena senja adalah keheningan yang sempat membuatnya bisu tak berkata-kata, dalam rona kebersamaan yang memeluknya perlahan.


0 komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 03 Mei 2014

Senja di atas Singapore Flyer

Diposting oleh Primasdiahap di 05.15


Ia meneguk air mineral dalam botol yang di genggamnya perlahan, di bawah rindangnya pepohonan taman, betapa segar air mineral itu diteguknya saat udara begitu panas. Diperhatikannya bergantian orang berjalan memenuhi trotoar, kadang banyak pula dari mereka alih-alih menyebrang di sela keruwetan jalan yang penuh sesak kendaraan, banyak juga yang sedang ber-hunting  ria menebarkan segala pose eksotis yang mereka punya.
Ada yang hilang.
Keningnya berkerut samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu yang hilang. Hanya saja ia tidak tahu apa yang hilang itu. Dan apakah sesuatu yang hilang itu penting untuknya. Ia menarik napas dalam-dalam. Di liriknya lagi segelintir orang di sebrang jalan. Mereka terlihat tertawa, saling tersenyum, gembira, bahkan kegembiraan itu meluruhkan segala keruwetan jalan yang sempat membuyarkan suasana damai di bawah pepohonan rindang tempat ia duduk.

Kebersamaan.
Biasanya wanita yang kini duduk menikmati seteguk air itu memang selalu terlihat bersama, bersama seorang yang  kini tak terlihat sedang bersamanya. Bola matanya yang coklat  masih menelusuri sekeliling taman, berputar membelakangi bangku. Lantas pergi berjalan menelusuri sungai. Entah kalut atau apakah yang ia rasa.

 Masih sama, sekerumunan orang tadi tetap bersendau gurau. Jauh berbeda dengan gadis penelusur sungai yang seolah sangat dan benar-benar kesepian, sendiri menikmati sepoi-sepoi angin di tengah waktu sang raja siang bergemerlap. Aneh, gadis tadi berjalan tanpa pernah melepas pandang dari kerumunan orang di sebrang jalan. Rautnya jelas tergambar, seakan berkata pada kerumunan orang bahwa ia merindukan kebersamaan. Seperti sediakala saat semua terlihat baik, penuh dengan senyum bahkan tawa kerap mengisi hari-harinya.

***

Rifaldi Laboru atau yang sering di panggil Aldi ini adalah bungsu dari dua bersaudara. Lelaki yang sudah hampir dua dekade mengecap manis pahitnya hidup dan juga sudah menghabiskan seperempat hidupnya untuk menetap dan tinggal di negeri sebrang ini sama seperti IT nerd pada umumnya. Dia yang gemar bermain dota, baca manga, dan nonton anime ini punya hoki yang sangat besar. Bagaimana tidak, lulus mengenyam pendidikan di SMA Kharisma Bangsa Tangerang, dia merantau ke Nanyang Technological University Singapore untuk mengambil title B. Eng nya di Computer Science.

Hoki nya lagi Aldi diterima di sebuah perusahaan di US sebelum lulus kuliah, karena itu membuat dia harus berangkat kesana tahun ini. Untuk  mengisi waktu luangnya sembari menunggu tempo hari dia berangkat ke US, dia bekerja di sebuah tempat yang cukup bergengsi di Singapore.

****

Genista Larasati, gadis manis penuh ambisi, lebih di kenal sebagai seorang yang misterius ini gemar jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Hal terindah menurutnya adalah kebersamaan. Sejak kecil Genis memang sudah di ajarkan mandiri oleh kedua orang tuanya, karena menjadi anak sulung akan setiap saat di contoh dan memberikan contoh untuk adiknya. Tentunya adalah contoh terbaik, oleh karenanya Genis terdidik menjadi seorang dengan ambisi tinggi. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga kini dia bernaung di salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Nama Genista Larasati selalu berkibar membanggakan almamaternya.

Genis tak pernah absen mengikuti segala macam kompetisi, sudah banyak medali yang ia peroleh dalam beberapa kompetisi terakhir yang ia ikuti. Seperti INAICTA, GEMNASTIK, Imagine Cup 2013 dan kesibukannya mengurus segala kegiatan sagasitas (komunitas Karya Ilmiah Remaja) di Dikpora Yogyakarta. Beberapa tahun lalu saat masih duduk di bangku SMA Genis adalah perwakilan Yogyakarta untuk ikut OSN Matematika. Betapa berhasilnya dia dalam mengatur segala kemampuan dirinya untuk berkembang. Berhasil sebagai contoh terbaik untuk adikknya.

Kesibukan-kesibukannya kini juga semakin menjadi ketika ia dihadapkan dengan deadline proposal untuk mengikuti KP di NTU (Nanyang Technological University, Singapore). Padahal saat itu juga  ia sedang mempersiapkan diri untuk ikut dalam kompetisi IT local. KP di NTU ini adalah salah satu bagian list hidupnya yang sengaja ia tuliskan setiap tahun sebagai tolok ukur pencapaiannya. Genis memang tak pernah ragu dalam menuliskan segala mimpinya, mulai dari apa yang harus ia lakukan, dan seberapa besar usaha yang telah ia kerjakan.

***
Dear Genista Larasati,

Congratulation! This is for inform that your
 application for NTU – EEE Research
Attachment Programe (ERAP) is successful.

            Satu lagi keberhasilan Genis dalam mewujudkan satu per satu list hidupnya untuk berprestasi. Proposal Genis diterima dan ia akan bekerja selama tiga bulan di Nanyang Tecnology University Singapore sebagai Research Asistant. Pada bulan pertama, Genis mendapat English Course untuk mempersiapkan ERAP member yang belum terbiasa mengajar dengan bahasa Inggris.

            Hampir dua bulan berjalan Genis menjadi Research Asistant. Pekerjaan Genis memang tak banyak menghabiskan waktu, karena apabila ia sudah menyelesaikan tugasnya di lab dia diperbolehkan pulang. Hari itu Genis dapat menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat. Bertepatan dengan bulan puasa, Genis ingin menghabiskan waktu ngabuburit ke pasar Ramadhan yang berada di Geylang. Diajaknya Ifah sesama member ERAP yang kebetulan juga sangat antusias pergi ke pasar Ramadhan, mereka pergi berempat bersama dengan dua teman Ifah, Rama dan Aldi. Di situlah Genis pertama kali bertemu dengan Rama dan Aldi.

***

Dua bulan berlalu, karena sering kelebihan jam kosong Genis semakin sering jalan bersama Ifah, Rama, dan Aldi. Tapi entah kenapa Aldi menawarkan diri untuk mengajak Genis jalan bersama, tanpa Ifah dan Rama. Awalnya mereka mengikuti pengajian KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) bersama, lalu seusai pengajian Aldi mengajak Genis ke Singapore Flyer. Saat itu memang hanya iseng menunggu adzan maghrib dengan coba naik Singapore Flyer, dan senja begitu menawan.

“Wah sunsetnya kelihatan, padahal kan tadi mendung. Jadi cowok hoki banget sih Al…”
“Lo mau bikin gue jadi cowok yang lebih hoki lagi nggak? …… Jadi pacar gue yak Nis”

Hening seketika, dilapisi semburat senja yang perlahan di lahap tenggelam. Saat itu benar-benar hening. Genis yang sempat tak percaya bahwa Aldi yang tiba-tiba aneh mengajak dirinya untuk jalan hanya berdua pun masih tak dapat berkata-kata.

“Bilang dulu ama bokap gue, kalau beliau bilang yes, gue juga yes”

Saat itu hp Genis dan Aldi mati, saat tepat di atas Singapore Flyer. Oleh karena itu, esok harinya Aldi baru menghubungi ayah Genis di Jogja. Tapi betapa butuh keberanian besar untuk Aldi menelpon ayah Genis, karena bukan sekedar “nembak” tetapi sekalian meminta izin. Dengan bermacam pendahuluan kata dalam perbincangan singkatnya, akhirnya ayah Genis “Yaa!” ucapnya.

Tak lagi aku sunyi, sendiri di sini..
Tak lagi aku sepi, berjalan di sini..
Tak lagi aku takut, tertahan di sini..

Sekarang berkat senja di atas Singapore Flyer bersama Aldi, Genis sang gadis manis penuh ambisi ini tak lagi terusik bahkan terpelanting dalam deru nyanyian jalan yang sesak. Bahkan menurutnya penuh kebersamaan yang sangat ia harap. Namun kini tak lagi pilu, karena senja adalah keheningan yang sempat membuatnya bisu tak berkata-kata, dalam rona kebersamaan yang memeluknya perlahan.


0 komentar on "Senja di atas Singapore Flyer"

Posting Komentar

 
Reaching Dream of the Past Blogger Template by Ipietoon Blogger Template
Cute Hello Kitty 2