Ia meneguk air mineral dalam
botol yang di genggamnya perlahan, di bawah rindangnya pepohonan taman, betapa segar
air mineral itu diteguknya saat udara begitu panas. Diperhatikannya bergantian
orang berjalan memenuhi trotoar, kadang banyak pula dari mereka alih-alih
menyebrang di sela keruwetan jalan yang penuh sesak kendaraan, banyak juga yang
sedang ber-hunting ria menebarkan segala pose eksotis yang
mereka punya.
Ada yang hilang.
Keningnya berkerut
samar. Tentu saja ada yang hilang. Ia tahu benar ada sesuatu yang hilang. Hanya
saja ia tidak tahu apa yang hilang itu. Dan apakah sesuatu yang hilang itu
penting untuknya. Ia menarik napas dalam-dalam. Di liriknya lagi segelintir orang
di sebrang jalan. Mereka terlihat tertawa, saling tersenyum, gembira, bahkan
kegembiraan itu meluruhkan segala keruwetan jalan yang sempat membuyarkan
suasana damai di bawah pepohonan rindang tempat ia duduk.
Kebersamaan.
Biasanya wanita yang
kini duduk menikmati seteguk air itu memang selalu terlihat bersama, bersama
seorang yang kini tak terlihat sedang
bersamanya. Bola matanya yang coklat masih
menelusuri sekeliling taman, berputar membelakangi bangku. Lantas pergi
berjalan menelusuri sungai. Entah kalut atau apakah yang ia rasa.
Masih sama, sekerumunan orang tadi tetap
bersendau gurau. Jauh berbeda dengan gadis penelusur sungai yang seolah sangat
dan benar-benar kesepian, sendiri menikmati sepoi-sepoi angin di tengah waktu
sang raja siang bergemerlap. Aneh, gadis tadi berjalan tanpa pernah melepas
pandang dari kerumunan orang di sebrang jalan. Rautnya jelas tergambar, seakan
berkata pada kerumunan orang bahwa ia merindukan kebersamaan. Seperti sediakala
saat semua terlihat baik, penuh dengan senyum bahkan tawa kerap mengisi
hari-harinya.
***
Rifaldi Laboru atau yang
sering di panggil Aldi ini adalah bungsu dari dua bersaudara. Lelaki yang sudah
hampir dua dekade mengecap manis pahitnya hidup dan juga sudah menghabiskan
seperempat hidupnya untuk menetap dan tinggal di negeri sebrang ini sama
seperti IT nerd pada umumnya. Dia yang gemar bermain dota, baca manga, dan
nonton anime ini punya hoki yang sangat besar. Bagaimana tidak, lulus mengenyam
pendidikan di SMA Kharisma Bangsa Tangerang, dia merantau ke Nanyang
Technological University Singapore untuk mengambil title B. Eng nya di Computer
Science.
Hoki nya lagi Aldi diterima
di sebuah perusahaan di US sebelum lulus kuliah, karena itu membuat dia harus
berangkat kesana tahun ini. Untuk mengisi
waktu luangnya sembari menunggu tempo hari dia berangkat ke US, dia bekerja di
sebuah tempat yang cukup bergengsi di Singapore.
****
Genista Larasati, gadis
manis penuh ambisi, lebih di kenal sebagai seorang yang misterius ini gemar
jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Hal terindah
menurutnya adalah kebersamaan. Sejak kecil Genis memang sudah di ajarkan
mandiri oleh kedua orang tuanya, karena menjadi anak sulung akan setiap saat di
contoh dan memberikan contoh untuk adiknya. Tentunya adalah contoh terbaik,
oleh karenanya Genis terdidik menjadi seorang dengan ambisi tinggi. Mulai dari
SD, SMP, SMA, hingga kini dia bernaung di salah satu perguruan tinggi terbaik
di Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Nama Genista Larasati selalu berkibar membanggakan
almamaternya.
Genis tak pernah absen
mengikuti segala macam kompetisi, sudah banyak medali yang ia peroleh dalam
beberapa kompetisi terakhir yang ia ikuti. Seperti INAICTA, GEMNASTIK, Imagine
Cup 2013 dan kesibukannya mengurus segala kegiatan sagasitas (komunitas Karya
Ilmiah Remaja) di Dikpora Yogyakarta. Beberapa tahun lalu saat masih duduk di
bangku SMA Genis adalah perwakilan Yogyakarta untuk ikut OSN Matematika. Betapa
berhasilnya dia dalam mengatur segala kemampuan dirinya untuk berkembang.
Berhasil sebagai contoh terbaik untuk adikknya.
Kesibukan-kesibukannya
kini juga semakin menjadi ketika ia dihadapkan dengan deadline proposal untuk
mengikuti KP di NTU (Nanyang Technological University, Singapore). Padahal saat
itu juga ia sedang mempersiapkan diri
untuk ikut dalam kompetisi IT local. KP di NTU ini adalah salah satu bagian list
hidupnya yang sengaja ia tuliskan setiap tahun sebagai tolok ukur
pencapaiannya. Genis memang tak pernah ragu dalam menuliskan segala mimpinya,
mulai dari apa yang harus ia lakukan, dan seberapa besar usaha yang telah ia
kerjakan.
***
Dear
Genista Larasati,
Congratulation!
This is for inform that your
application for NTU – EEE Research
Attachment
Programe (ERAP) is successful.
Satu lagi keberhasilan
Genis dalam mewujudkan satu per satu list hidupnya untuk berprestasi. Proposal Genis
diterima dan ia akan bekerja selama tiga bulan di Nanyang Tecnology University
Singapore sebagai Research Asistant. Pada bulan pertama, Genis mendapat English
Course untuk mempersiapkan ERAP member yang belum terbiasa mengajar dengan
bahasa Inggris.
Hampir dua bulan berjalan Genis menjadi Research Asistant.
Pekerjaan Genis memang tak banyak menghabiskan waktu, karena apabila ia sudah
menyelesaikan tugasnya di lab dia diperbolehkan pulang. Hari itu Genis dapat menyelesaikan
pekerjaannya lebih cepat. Bertepatan dengan bulan puasa, Genis ingin
menghabiskan waktu ngabuburit ke pasar Ramadhan yang berada di Geylang. Diajaknya
Ifah sesama member ERAP yang kebetulan juga sangat antusias pergi ke pasar
Ramadhan, mereka pergi berempat bersama dengan dua teman Ifah, Rama dan Aldi.
Di situlah Genis pertama kali bertemu dengan Rama dan Aldi.
***
Dua
bulan berlalu, karena sering kelebihan jam kosong Genis semakin sering jalan
bersama Ifah, Rama, dan Aldi. Tapi entah kenapa Aldi menawarkan diri untuk
mengajak Genis jalan bersama, tanpa Ifah dan Rama. Awalnya mereka mengikuti
pengajian KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) bersama, lalu seusai
pengajian Aldi mengajak Genis ke Singapore Flyer. Saat itu memang hanya iseng menunggu
adzan maghrib dengan coba naik Singapore Flyer, dan senja begitu menawan.
“Wah
sunsetnya kelihatan, padahal kan tadi mendung. Jadi cowok hoki banget sih Al…”
“Lo mau
bikin gue jadi cowok yang lebih hoki lagi nggak? …… Jadi pacar gue yak Nis”
Hening
seketika, dilapisi semburat senja yang perlahan di lahap tenggelam. Saat itu
benar-benar hening. Genis yang sempat tak percaya bahwa Aldi yang tiba-tiba
aneh mengajak dirinya untuk jalan hanya berdua pun masih tak dapat
berkata-kata.
“Bilang
dulu ama bokap gue, kalau beliau bilang yes, gue juga yes”
Saat
itu hp Genis dan Aldi mati, saat tepat di atas Singapore Flyer. Oleh karena
itu, esok harinya Aldi baru menghubungi ayah Genis di Jogja. Tapi betapa butuh
keberanian besar untuk Aldi menelpon ayah Genis, karena bukan sekedar “nembak”
tetapi sekalian meminta izin. Dengan bermacam pendahuluan kata dalam
perbincangan singkatnya, akhirnya ayah Genis “Yaa!” ucapnya.
Tak lagi aku sunyi, sendiri di
sini..
Tak lagi aku sepi, berjalan di
sini..
Tak lagi aku takut, tertahan di
sini..
Sekarang
berkat senja di atas Singapore Flyer bersama Aldi, Genis sang gadis manis penuh
ambisi ini tak lagi terusik bahkan terpelanting dalam deru nyanyian jalan yang
sesak. Bahkan menurutnya penuh kebersamaan yang sangat ia harap. Namun kini tak
lagi pilu, karena senja adalah keheningan yang sempat membuatnya bisu tak
berkata-kata, dalam rona kebersamaan yang memeluknya perlahan.

0 komentar:
Posting Komentar