Selasa, 27 November 2012

Sulitnya Memulai



Kendala yang cukup berat yang dihadapi banyak penulis, baik penulis pemula hingga yang disebut professional, hamper sama yaitu sulitnya memulai sebuah tulisan. Jika dikalkulasikan dari semua masalah kepenulisan, masalah ini memiliki presentase tertinggi sebagai masalah yang paling popular.
        Dalam  tulisan nonfiksi, kalimat pembuka ini disebut lead. Baik pembuka karangan dalam tulisan fiksi atau lead dalam tulisan nonfiksi, keduanya mendapatkan kesulitan yang sama. Terkadang seorang penulis professional menyarankan agar “tulis saja apa yang ada dalam pikiran saat itu”, nanti juga akan menemukan korelasinya sendiri dengan bahasan yang sedang dibahas. Bagaiman pun setelah itu, biasanya akan terlihat dengan sendirinya mana susunan kalimat yang tidak layak dan harus dipangkas, serta mana yang harus dipertahankan.

Kamis, 15 November 2012

Puisi Kecil Untuk Bintang



semalam tadi aku berdoa
akan datangnya sebuah masa
dimana kita akan bersama
menciptakan tawa dalam air mata

cahaya terang, lentera malam..
hanya harap yang aku punya
dalam elegy kenistaan
dan kebohongan kehidupan

cahaya terang, lentera malam..
sentuhan kecil yang dia punya
membuatmu tertawa dalam fana dunia

bintang dalam sepiku
bintang dalam tawaku
bintang dalam sedihku

saat salah satu bintang biru redupkan cahaya
ingatlah masih ada bintang merah pencarkan sinar mereka

pandanglah khayal semata
harap cemas berganti sirna
karna percaya indah pada waktunya

terkadang asanya tak dapat menerima
namun, sinarmu membangkitkannya
untuk yakin semua baik-baik saja
by: Salsabiila Astari Putri

Selasa, 13 November 2012

Mimpi, dan sedikit ekor mengikutinya ..



Siapa yang belum atau bahkan tidak pernah bermimpi? Mustahil bahwa seseorang untuk tidak ataupun belum pernah merasakan mimpi.
Mimpi adalah pintu pertama menuju realitas. Dari mimpi, sesuatu mendapatkan gambaran bentuknya. Dari mimpi pula, seseorang menggambarkan cita-citanya. Dari mimpi terlahir masa kini.
Beberapa orang menyebut mimpi sebagai bunga tidur. Mimpi dianggap sebagai pemanis di kala sedang terlelap. Dianggap tidak mempunyai arti. Namun pada beberapa orang mimpi juga diangap sebagai pertanda. Apalagi jika yang mengalami mimpi itu adalah wali, orang sholeh, atau orang yang dianggap mempunyai kedekatan dengan pencipta. Nah, mimpi yang di tanda kan tersebut akan menjadi rebutan dalam penafsiran dan pengakuan.
Yang ini lain lagi. . Mimpi yang dibangun sendiri. Membangun mimpi untuk menambah energi dalam mencapai suatu harapan. Cita-cita. Begitu orang menyebut mimpi yang menjadi arah dalam kelakuan hidupnya. Mimpi itu akan dipasang di depan jalan yang dilaluinya supaya setiap langkahnya selalu diiringi oleh harapan besarnya.
Mimpi adalah pengalaman di bawah ruang kesadaran yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, dan alat indra lainnya, bias terjadi di dalam tidur atau terjaga.
Ada kalanya mimpi juga bisa dikendalikan. Ketika rasa dan indra sudah merasa menjadi bagian dari mimpi, kadangkala apa yang dikehendaki bisa membelokkan arah dalam mimpi.
Andai Tuhan memberiku pilihan dalam bermimpi, aku ingin selalu bermimpi tentang dirimu. Dirimu yang senyatanya jarang tersenyum padaku, jarang berbincang denganku, dan terlebih seperti tak lagi mengenalku.

Sabtu, 10 November 2012

Cerpen



Surat Untuk Sahabat
Terik  sinar matahari lepaskan aku dari jerat mimpi yang sempat menguasai malamku. Dengan posisi setengah sadar karena kantuk,  rasanya masih malas mengangkat tubuh dari ranjang tempat tidur. Untungnya hari ini hari minggu, jadi sekolah libur. Untukku penerapan prinsip awal harus selalu terlaksana. Apapun keadaannya, aku harus tetap langkahkan kaki untuk gapai sebuah mimpi. “Semangat dan bergegas bangun untuk menyambut pagi yang telah lama ku tunggu!” kataku sedikit keras pagi itu.
 Pagi itu awan ikut hadir menghiasi lapisan atmosfer bumi. Orang bilang hidup itu indah bila kita dapat memprektekkan perilaku pasukan semut yang sedang mengumpulkan persediaan makanan menjelang musim hujan dengan cara gotong royong, saling membantu dan berjuang bersama menjaga kekompakan tentunya.
Terkadang aku pun ingin menjadi satu diantara pasukan semut yang berlomba mencari makanan cadangan, dapat bersama-sama dengan sesama walaupun bukan saudara, ataupun ..
“Sinta, bangun nak sudah siang!” teriak ibu dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
“Iya, Sinta udah bangun kok bu.” Jawabku cepat. “Ah sedang asyik melamunkan pasukan semut dan semua kekompakannya, kenapa ibu mengagetkanku dengan teriakan membangunkanku. Padahal sudah dari tadi aku bangun,” dengan nada bicara sedikit menyesal aku bergegas keluar dari kamar.
“Kamu itu anak perempuan bangun jangan terlalu siang dong, bantu-bantu ibu kan bisa?”
“Iya, maafin Sinta bu. Sinta janji. Mulai minggu depan Sinta akan selalu bangun on time bu.”
Setelah acara sarapan bersama selesai, aku kembali ke kamar untuk membereskan seluruh isi kamarku yang rupanya sudah tidak nyaman untuk belajar. Tapi sebelum itu aku mandi dulu. Tak lama setelah mandi aku memulai kegiatan membereskan kamar beserta meja belajarku.
Dimulai dari tempat tidur.
Aku membereskan selimut, merapikan bantal dan gulingku. Setelah tempat tidur beres, aku mulai merapikan meja belajar. Di sela waktu merapikan, aku masih terbayang dengan lamunanku tadi pagi. Soal pasukan semut. Di depanku terlihat catatan diary kecil milikku 1 tahun lalu. Asyik membuka lembar demi lembar cerita masa lalu, hingga titik nostalgia menyapaku kala itu.
Halaman belakang diary itu masih kosong, dengan mempertahankan posisi melayang dengan pasukan semut tadi pagi. Ku ambil pena, dan menyertakan beberapa coretan di atas lembar terakhir diary milikku tadi. Karena dalam nostalgiaku, aku teringat sahabat bintangku yang akhir-akhir ini tak akrab denganku. Rasanya kami saling menjauh tanpa alasan jelas.
Hai, kamu.
Iya, kamu. Sebelumnya, maafkanlah aku, apabila kurang santun adanya. Ini, karena sungguhlah aku bimbang, hendak apa dan bagaimana, memanggilmu. Tiada berani aku langsung menyebut namamu. Itu seakan punya kekuatan magis yang mampu menggetar sukmaku. Entah, aku pun tak tahu mengapa.
            Jadi, bolehkah kamu tetap menjadi kamu?
            Sekarang,izinkan aku memasuki bagian surat yang pertama sesuai dengan kaidah-kaidah ahasa dan sastra, entahlah apa itu namanya. Ku harap kamu tidakbosan jadinya, karena aku akan sedikit berbasa-basi. Oh, tidak, bukan begitu maksudku. Menjadi suatu kehormatan dan senang sekalilah aku, bisa menanyakan dan mendengar warta tentangmu. Maka, aku akan bertanya:
‘Apa kabar?’
Ku harap, kamu selalu baik saja, seperti yang selalu didaraskan dan diharapkan oleh yang mengasihimu.
Intisari dari surat ini sebenarnya sederhana saja. Aku, hanya ingin menyapamu, santai, tanpa kaku ataupun keki bak kawan, atau apapun kamu anggap aku, aku tetap suka. Sembari, sedikit berceracau, bercerita tentang apa yang aku ingin curah-kisahkan, tentang kita.
Ya, tentang kita.
Kita, tahu sama tahu. Oke, mungkin kamu akan tidak setuju, karena sebenarnya tak ada ‘kita’. Cukup, paling jauh, aku mengenalku, dan kamu mengenalku.
 Sejak awal, aku tertarik akan dirimu. Bak magnet, kamu kutub utara, aku kutub selatan. Aku pun terpikat. Seperti yang sudah tersebutkan pula: kamu membawa pengaruh magis. Diri ini terhipnotis oleh tatap kilat, tawa, jail, segala polah, segala tampilanmu. Aku, tersihir olehmu seutuhnya, kala itu. Penasaran menggerayapi.
 Siapakah kamu?
 Rasa penasaran pun menuntunku untuk menduga-duga, berhipotesa, dan mencipta konklusi. Dan, kutemukan sebuah tanda doa dari orang tuamu: namamu.
 Sayangnya, sayang, aku tak kuasa menghentikan rasa itu sampai di sana. Aku haus akanmu. Segala keingin tahuan, pencarian, penemuan, bermuara pada satu tuju.
Aku ingin mengenalmu lebih dekat.
 Begitu besar pula inginku untuk menatap langsung dua bola matamu yang indah, namun tajam sorotnya lama. Aku malu, tak berani. Diam-diam saja ku lirik kamu, berharap mendapat balas, hingga sorot itu mengebor lubuk nuraniku. Dan, kita pun lalu saling berselam jiwa.
 Tapi, itu terlalu tinggi.
 Sudah cukup senanglah ku dengar namamu, suaramu, potongan-potongan cerita tentangmu, menapak tilas jejakmu di nyata dan maya secara sembunyi-sembunyi. Melihat potret dirimu, apalagi berpapasan langsung, sudah cukup membahagiakan untukku, walau itu membuat nafasku bak tertahan seketika, dan degub jangtungku tak karuan jadinya. Wah, apalagi jika kamu ajak aku bercakap, dan nanti terwujud tatap, kyaaaa! Bisa-bisa, jantung itu spontan meloncat dari dada ini!
Apa-apaan ini? Begitu berbunga-bunga rasanya, bahasa puitis menjabarkan. Namun, tetap diri ini tak mengerti, tak tahu apa rasa ini. Penuh Tanya, mungkinkah ….?
Upss. Tidak, tidak. Aku tak butuh jawaban. Walaupun turut penuh tanya, jugakah kamu, aku menolak jawaban. Bukan ranahku untuk masuk, atau jatuh terlalu dalam. Cukup.
 Biarkan hanya kupandang kamu dari jauh, lewat ekor mataku. Biarkan aku menghayati bayangmu, menggemari pesonamu.
Cukup begitu saja…
Salam diam-diam,
Pengagum rahasiamu

Jam menunjukkan pukul 15.00
            Gerimis mengakhiri surat untuk sahabatku, teriakan doa bersamaan dengan tetesan air yang basahi permukaan batuan bumi. Meniupkan harapan kepada Tuhan untuk pinta yang ingin terdengar.
Tuhan,
Bila engkau dapat satukan perbedaan ribuan semut
Aku hanya memohon satukan aku dengan sahabat bintangku
Bila sahabat bintang memang tak dapat kembali bersahabat denganku
Gantikanlah dia dengan orang yang Kau pilihkan untuk jadi sahabatku
Terima kasih atas karunia-Mu

Selasa, 27 November 2012

Sulitnya Memulai

Diposting oleh Primasdiahap di 22.44 0 komentar


Kendala yang cukup berat yang dihadapi banyak penulis, baik penulis pemula hingga yang disebut professional, hamper sama yaitu sulitnya memulai sebuah tulisan. Jika dikalkulasikan dari semua masalah kepenulisan, masalah ini memiliki presentase tertinggi sebagai masalah yang paling popular.
        Dalam  tulisan nonfiksi, kalimat pembuka ini disebut lead. Baik pembuka karangan dalam tulisan fiksi atau lead dalam tulisan nonfiksi, keduanya mendapatkan kesulitan yang sama. Terkadang seorang penulis professional menyarankan agar “tulis saja apa yang ada dalam pikiran saat itu”, nanti juga akan menemukan korelasinya sendiri dengan bahasan yang sedang dibahas. Bagaiman pun setelah itu, biasanya akan terlihat dengan sendirinya mana susunan kalimat yang tidak layak dan harus dipangkas, serta mana yang harus dipertahankan.

Kamis, 15 November 2012

Puisi Kecil Untuk Bintang

Diposting oleh Primasdiahap di 22.55 0 komentar


semalam tadi aku berdoa
akan datangnya sebuah masa
dimana kita akan bersama
menciptakan tawa dalam air mata

cahaya terang, lentera malam..
hanya harap yang aku punya
dalam elegy kenistaan
dan kebohongan kehidupan

cahaya terang, lentera malam..
sentuhan kecil yang dia punya
membuatmu tertawa dalam fana dunia

bintang dalam sepiku
bintang dalam tawaku
bintang dalam sedihku

saat salah satu bintang biru redupkan cahaya
ingatlah masih ada bintang merah pencarkan sinar mereka

pandanglah khayal semata
harap cemas berganti sirna
karna percaya indah pada waktunya

terkadang asanya tak dapat menerima
namun, sinarmu membangkitkannya
untuk yakin semua baik-baik saja
by: Salsabiila Astari Putri

Selasa, 13 November 2012

Mimpi, dan sedikit ekor mengikutinya ..

Diposting oleh Primasdiahap di 14.21 0 komentar


Siapa yang belum atau bahkan tidak pernah bermimpi? Mustahil bahwa seseorang untuk tidak ataupun belum pernah merasakan mimpi.
Mimpi adalah pintu pertama menuju realitas. Dari mimpi, sesuatu mendapatkan gambaran bentuknya. Dari mimpi pula, seseorang menggambarkan cita-citanya. Dari mimpi terlahir masa kini.
Beberapa orang menyebut mimpi sebagai bunga tidur. Mimpi dianggap sebagai pemanis di kala sedang terlelap. Dianggap tidak mempunyai arti. Namun pada beberapa orang mimpi juga diangap sebagai pertanda. Apalagi jika yang mengalami mimpi itu adalah wali, orang sholeh, atau orang yang dianggap mempunyai kedekatan dengan pencipta. Nah, mimpi yang di tanda kan tersebut akan menjadi rebutan dalam penafsiran dan pengakuan.
Yang ini lain lagi. . Mimpi yang dibangun sendiri. Membangun mimpi untuk menambah energi dalam mencapai suatu harapan. Cita-cita. Begitu orang menyebut mimpi yang menjadi arah dalam kelakuan hidupnya. Mimpi itu akan dipasang di depan jalan yang dilaluinya supaya setiap langkahnya selalu diiringi oleh harapan besarnya.
Mimpi adalah pengalaman di bawah ruang kesadaran yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, dan alat indra lainnya, bias terjadi di dalam tidur atau terjaga.
Ada kalanya mimpi juga bisa dikendalikan. Ketika rasa dan indra sudah merasa menjadi bagian dari mimpi, kadangkala apa yang dikehendaki bisa membelokkan arah dalam mimpi.
Andai Tuhan memberiku pilihan dalam bermimpi, aku ingin selalu bermimpi tentang dirimu. Dirimu yang senyatanya jarang tersenyum padaku, jarang berbincang denganku, dan terlebih seperti tak lagi mengenalku.

Sabtu, 10 November 2012

Cerpen

Diposting oleh Primasdiahap di 13.22 0 komentar


Surat Untuk Sahabat
Terik  sinar matahari lepaskan aku dari jerat mimpi yang sempat menguasai malamku. Dengan posisi setengah sadar karena kantuk,  rasanya masih malas mengangkat tubuh dari ranjang tempat tidur. Untungnya hari ini hari minggu, jadi sekolah libur. Untukku penerapan prinsip awal harus selalu terlaksana. Apapun keadaannya, aku harus tetap langkahkan kaki untuk gapai sebuah mimpi. “Semangat dan bergegas bangun untuk menyambut pagi yang telah lama ku tunggu!” kataku sedikit keras pagi itu.
 Pagi itu awan ikut hadir menghiasi lapisan atmosfer bumi. Orang bilang hidup itu indah bila kita dapat memprektekkan perilaku pasukan semut yang sedang mengumpulkan persediaan makanan menjelang musim hujan dengan cara gotong royong, saling membantu dan berjuang bersama menjaga kekompakan tentunya.
Terkadang aku pun ingin menjadi satu diantara pasukan semut yang berlomba mencari makanan cadangan, dapat bersama-sama dengan sesama walaupun bukan saudara, ataupun ..
“Sinta, bangun nak sudah siang!” teriak ibu dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
“Iya, Sinta udah bangun kok bu.” Jawabku cepat. “Ah sedang asyik melamunkan pasukan semut dan semua kekompakannya, kenapa ibu mengagetkanku dengan teriakan membangunkanku. Padahal sudah dari tadi aku bangun,” dengan nada bicara sedikit menyesal aku bergegas keluar dari kamar.
“Kamu itu anak perempuan bangun jangan terlalu siang dong, bantu-bantu ibu kan bisa?”
“Iya, maafin Sinta bu. Sinta janji. Mulai minggu depan Sinta akan selalu bangun on time bu.”
Setelah acara sarapan bersama selesai, aku kembali ke kamar untuk membereskan seluruh isi kamarku yang rupanya sudah tidak nyaman untuk belajar. Tapi sebelum itu aku mandi dulu. Tak lama setelah mandi aku memulai kegiatan membereskan kamar beserta meja belajarku.
Dimulai dari tempat tidur.
Aku membereskan selimut, merapikan bantal dan gulingku. Setelah tempat tidur beres, aku mulai merapikan meja belajar. Di sela waktu merapikan, aku masih terbayang dengan lamunanku tadi pagi. Soal pasukan semut. Di depanku terlihat catatan diary kecil milikku 1 tahun lalu. Asyik membuka lembar demi lembar cerita masa lalu, hingga titik nostalgia menyapaku kala itu.
Halaman belakang diary itu masih kosong, dengan mempertahankan posisi melayang dengan pasukan semut tadi pagi. Ku ambil pena, dan menyertakan beberapa coretan di atas lembar terakhir diary milikku tadi. Karena dalam nostalgiaku, aku teringat sahabat bintangku yang akhir-akhir ini tak akrab denganku. Rasanya kami saling menjauh tanpa alasan jelas.
Hai, kamu.
Iya, kamu. Sebelumnya, maafkanlah aku, apabila kurang santun adanya. Ini, karena sungguhlah aku bimbang, hendak apa dan bagaimana, memanggilmu. Tiada berani aku langsung menyebut namamu. Itu seakan punya kekuatan magis yang mampu menggetar sukmaku. Entah, aku pun tak tahu mengapa.
            Jadi, bolehkah kamu tetap menjadi kamu?
            Sekarang,izinkan aku memasuki bagian surat yang pertama sesuai dengan kaidah-kaidah ahasa dan sastra, entahlah apa itu namanya. Ku harap kamu tidakbosan jadinya, karena aku akan sedikit berbasa-basi. Oh, tidak, bukan begitu maksudku. Menjadi suatu kehormatan dan senang sekalilah aku, bisa menanyakan dan mendengar warta tentangmu. Maka, aku akan bertanya:
‘Apa kabar?’
Ku harap, kamu selalu baik saja, seperti yang selalu didaraskan dan diharapkan oleh yang mengasihimu.
Intisari dari surat ini sebenarnya sederhana saja. Aku, hanya ingin menyapamu, santai, tanpa kaku ataupun keki bak kawan, atau apapun kamu anggap aku, aku tetap suka. Sembari, sedikit berceracau, bercerita tentang apa yang aku ingin curah-kisahkan, tentang kita.
Ya, tentang kita.
Kita, tahu sama tahu. Oke, mungkin kamu akan tidak setuju, karena sebenarnya tak ada ‘kita’. Cukup, paling jauh, aku mengenalku, dan kamu mengenalku.
 Sejak awal, aku tertarik akan dirimu. Bak magnet, kamu kutub utara, aku kutub selatan. Aku pun terpikat. Seperti yang sudah tersebutkan pula: kamu membawa pengaruh magis. Diri ini terhipnotis oleh tatap kilat, tawa, jail, segala polah, segala tampilanmu. Aku, tersihir olehmu seutuhnya, kala itu. Penasaran menggerayapi.
 Siapakah kamu?
 Rasa penasaran pun menuntunku untuk menduga-duga, berhipotesa, dan mencipta konklusi. Dan, kutemukan sebuah tanda doa dari orang tuamu: namamu.
 Sayangnya, sayang, aku tak kuasa menghentikan rasa itu sampai di sana. Aku haus akanmu. Segala keingin tahuan, pencarian, penemuan, bermuara pada satu tuju.
Aku ingin mengenalmu lebih dekat.
 Begitu besar pula inginku untuk menatap langsung dua bola matamu yang indah, namun tajam sorotnya lama. Aku malu, tak berani. Diam-diam saja ku lirik kamu, berharap mendapat balas, hingga sorot itu mengebor lubuk nuraniku. Dan, kita pun lalu saling berselam jiwa.
 Tapi, itu terlalu tinggi.
 Sudah cukup senanglah ku dengar namamu, suaramu, potongan-potongan cerita tentangmu, menapak tilas jejakmu di nyata dan maya secara sembunyi-sembunyi. Melihat potret dirimu, apalagi berpapasan langsung, sudah cukup membahagiakan untukku, walau itu membuat nafasku bak tertahan seketika, dan degub jangtungku tak karuan jadinya. Wah, apalagi jika kamu ajak aku bercakap, dan nanti terwujud tatap, kyaaaa! Bisa-bisa, jantung itu spontan meloncat dari dada ini!
Apa-apaan ini? Begitu berbunga-bunga rasanya, bahasa puitis menjabarkan. Namun, tetap diri ini tak mengerti, tak tahu apa rasa ini. Penuh Tanya, mungkinkah ….?
Upss. Tidak, tidak. Aku tak butuh jawaban. Walaupun turut penuh tanya, jugakah kamu, aku menolak jawaban. Bukan ranahku untuk masuk, atau jatuh terlalu dalam. Cukup.
 Biarkan hanya kupandang kamu dari jauh, lewat ekor mataku. Biarkan aku menghayati bayangmu, menggemari pesonamu.
Cukup begitu saja…
Salam diam-diam,
Pengagum rahasiamu

Jam menunjukkan pukul 15.00
            Gerimis mengakhiri surat untuk sahabatku, teriakan doa bersamaan dengan tetesan air yang basahi permukaan batuan bumi. Meniupkan harapan kepada Tuhan untuk pinta yang ingin terdengar.
Tuhan,
Bila engkau dapat satukan perbedaan ribuan semut
Aku hanya memohon satukan aku dengan sahabat bintangku
Bila sahabat bintang memang tak dapat kembali bersahabat denganku
Gantikanlah dia dengan orang yang Kau pilihkan untuk jadi sahabatku
Terima kasih atas karunia-Mu
 
Reaching Dream of the Past Blogger Template by Ipietoon Blogger Template
Cute Hello Kitty 2