Surat Untuk Sahabat
Terik sinar
matahari lepaskan aku dari jerat mimpi yang sempat menguasai malamku. Dengan
posisi setengah sadar karena kantuk,
rasanya masih malas mengangkat tubuh dari ranjang tempat tidur.
Untungnya hari ini hari minggu, jadi sekolah libur. Untukku penerapan prinsip
awal harus selalu terlaksana. Apapun
keadaannya, aku harus tetap langkahkan kaki untuk gapai sebuah mimpi. “Semangat
dan bergegas bangun untuk menyambut pagi yang telah lama ku tunggu!” kataku
sedikit keras pagi itu.
Pagi itu awan ikut
hadir menghiasi lapisan atmosfer bumi. Orang bilang hidup itu indah bila kita
dapat memprektekkan perilaku pasukan semut yang sedang mengumpulkan persediaan
makanan menjelang musim hujan dengan cara gotong royong, saling membantu dan
berjuang bersama menjaga kekompakan tentunya.
Terkadang aku pun ingin menjadi satu diantara pasukan
semut yang berlomba mencari makanan cadangan, dapat bersama-sama dengan sesama
walaupun bukan saudara, ataupun ..
“Sinta, bangun nak sudah siang!” teriak ibu dari luar
kamar sambil mengetuk pintu.
“Iya, Sinta udah bangun kok bu.” Jawabku cepat. “Ah
sedang asyik melamunkan pasukan semut dan semua kekompakannya, kenapa ibu mengagetkanku
dengan teriakan membangunkanku. Padahal sudah dari tadi aku bangun,” dengan
nada bicara sedikit menyesal aku bergegas keluar dari kamar.
“Kamu itu anak perempuan bangun jangan terlalu siang
dong, bantu-bantu ibu kan bisa?”
“Iya, maafin Sinta bu. Sinta janji. Mulai minggu depan
Sinta akan selalu bangun on time bu.”
Setelah acara sarapan bersama selesai, aku kembali ke
kamar untuk membereskan seluruh isi kamarku yang rupanya sudah tidak nyaman
untuk belajar. Tapi sebelum itu aku mandi dulu. Tak lama setelah mandi aku
memulai kegiatan membereskan kamar beserta meja belajarku.
Dimulai dari tempat tidur.
Aku membereskan selimut, merapikan bantal dan gulingku.
Setelah tempat tidur beres, aku mulai merapikan meja belajar. Di sela waktu
merapikan, aku masih terbayang dengan lamunanku tadi pagi. Soal pasukan semut.
Di depanku terlihat catatan diary kecil
milikku 1 tahun lalu. Asyik membuka lembar demi lembar cerita masa lalu, hingga
titik nostalgia menyapaku kala itu.
Halaman belakang diary
itu masih kosong, dengan mempertahankan posisi melayang dengan pasukan
semut tadi pagi. Ku ambil pena, dan menyertakan beberapa coretan di atas lembar
terakhir diary milikku tadi. Karena
dalam nostalgiaku, aku teringat sahabat bintangku yang akhir-akhir ini tak
akrab denganku. Rasanya kami saling menjauh tanpa alasan jelas.
Hai, kamu.
Iya, kamu.
Sebelumnya, maafkanlah aku, apabila kurang santun adanya. Ini, karena
sungguhlah aku bimbang, hendak apa dan bagaimana, memanggilmu. Tiada berani aku
langsung menyebut namamu. Itu seakan punya kekuatan magis yang mampu menggetar
sukmaku. Entah, aku pun tak tahu mengapa.
Jadi,
bolehkah kamu tetap menjadi kamu?
Sekarang,izinkan
aku memasuki bagian surat yang pertama sesuai dengan kaidah-kaidah ahasa dan
sastra, entahlah apa itu namanya. Ku harap kamu tidakbosan jadinya, karena aku
akan sedikit berbasa-basi. Oh, tidak, bukan begitu maksudku. Menjadi suatu
kehormatan dan senang sekalilah aku, bisa menanyakan dan mendengar warta
tentangmu. Maka, aku akan bertanya:
‘Apa kabar?’
Ku harap, kamu selalu
baik saja, seperti yang selalu didaraskan dan diharapkan oleh yang mengasihimu.
Intisari dari surat
ini sebenarnya sederhana saja. Aku, hanya ingin menyapamu, santai, tanpa kaku
ataupun keki bak kawan, atau apapun kamu anggap aku, aku tetap suka. Sembari,
sedikit berceracau, bercerita tentang apa yang aku ingin curah-kisahkan,
tentang kita.
Ya, tentang kita.
Kita, tahu sama tahu.
Oke, mungkin kamu akan tidak setuju, karena sebenarnya tak ada ‘kita’. Cukup,
paling jauh, aku mengenalku, dan kamu mengenalku.
Sejak awal, aku tertarik akan dirimu. Bak
magnet, kamu kutub utara, aku kutub selatan. Aku pun terpikat. Seperti yang
sudah tersebutkan pula: kamu membawa pengaruh magis. Diri ini terhipnotis oleh
tatap kilat, tawa, jail, segala polah, segala tampilanmu. Aku, tersihir olehmu
seutuhnya, kala itu. Penasaran menggerayapi.
Siapakah kamu?
Rasa penasaran pun menuntunku untuk
menduga-duga, berhipotesa, dan mencipta konklusi. Dan, kutemukan sebuah tanda
doa dari orang tuamu: namamu.
Sayangnya, sayang, aku tak kuasa menghentikan
rasa itu sampai di sana. Aku haus akanmu. Segala keingin tahuan, pencarian,
penemuan, bermuara pada satu tuju.
Aku ingin mengenalmu
lebih dekat.
Begitu besar pula inginku untuk menatap
langsung dua bola matamu yang indah, namun tajam sorotnya lama. Aku malu, tak
berani. Diam-diam saja ku lirik kamu, berharap mendapat balas, hingga sorot itu
mengebor lubuk nuraniku. Dan, kita pun lalu saling berselam jiwa.
Tapi, itu terlalu tinggi.
Sudah cukup senanglah ku dengar namamu,
suaramu, potongan-potongan cerita tentangmu, menapak tilas jejakmu di nyata dan
maya secara sembunyi-sembunyi. Melihat potret dirimu, apalagi berpapasan
langsung, sudah cukup membahagiakan untukku, walau itu membuat nafasku bak
tertahan seketika, dan degub jangtungku tak karuan jadinya. Wah, apalagi jika
kamu ajak aku bercakap, dan nanti terwujud tatap, kyaaaa! Bisa-bisa, jantung
itu spontan meloncat dari dada ini!
Apa-apaan ini? Begitu
berbunga-bunga rasanya, bahasa puitis menjabarkan. Namun, tetap diri ini tak
mengerti, tak tahu apa rasa ini. Penuh Tanya, mungkinkah ….?
Upss. Tidak, tidak.
Aku tak butuh jawaban. Walaupun turut penuh tanya, jugakah kamu, aku menolak
jawaban. Bukan ranahku untuk masuk, atau jatuh terlalu dalam. Cukup.
Biarkan hanya kupandang kamu dari jauh, lewat
ekor mataku. Biarkan aku menghayati bayangmu, menggemari pesonamu.
Cukup begitu saja…
Salam diam-diam,
Pengagum rahasiamu
Jam
menunjukkan pukul 15.00
Gerimis mengakhiri surat untuk
sahabatku, teriakan doa bersamaan dengan tetesan air yang basahi permukaan
batuan bumi. Meniupkan harapan kepada Tuhan untuk pinta yang ingin terdengar.
Tuhan,
Bila engkau dapat
satukan perbedaan ribuan semut
Aku hanya memohon
satukan aku dengan sahabat bintangku
Bila sahabat bintang
memang tak dapat kembali bersahabat denganku
Gantikanlah dia
dengan orang yang Kau pilihkan untuk jadi sahabatku
Terima kasih atas
karunia-Mu