Siapa kamu yang misterius?
Siapa kamu yang bersembunyi di balik
olok kawan sebayamu itu? Bisa di bilang kamu bagai pengecut yang gemar
mengumbar cinta.
Yang mengagumi teman sebangku-ku.Tanpa
kata, hanya laga yang sok tampan dengan sejuta pesona.Walaupun tak ada yang
membenarkan kau itu mempesona.
Perkenalkan namaku Chintya Diksha Kumala,
teman-teman dan sahabatku biasa memanggilku Mala. Pendiam tapi banyak berfikir
itu pribadiku, kadang malah kocak abis. Lebih-lebih sahabat-sahabatku
mengenalku juga alay :D
Ya, itu sih kata sahabatku Sherlin Alivi
yang super baik banget sama aku. Jelas baiknya itu orangnya setia buat dengerin
curhatanku. Hehe bisa di bilanglah mutualisme, walaupun kebanyak untung di aku
:D
Salah satunya tuh aku sering curhat soal
gebetan, biasanya gebetan terbaru. *0ps! Yah walaupun banyak yang berakhir
tragis karena sekedar mengagumi saja.
Oyaa, aku juga punya satu nama yang
belum aku kenalin ke kalian. Namanya Dicky Samudra, panggil saja Dicky.
Menurutku dia itu sama sekali nggak ganteng. Malah sok ganteng, aslinya sih cuma
nama doang yang agak keren. Tapi yaa gimana ya jelasinnya, gitu deh :P dewasa
banget orangnya…
Aku mau cerita nih, dan
itu GALAU bgt. Please deh ah.. sekali-kali kalian jadi Sherlin eapps! Check
this out :D
Waktu itu aku pernah di maintain tolong
sama Dicky, dia nyuruh aku nyampein salam nya buat sahabatku. Tau kan siapa?
Eapss! Salam itu buat Sherlin temen sebangku-ku sekaligus sahabat tercintaku. Rasanya
pengen cepat-cepat lari jauh-jauh dari cowok cupu itu. Ya itung-itung ngga ada urusan,
dengan lelaki pengecut itu. Tapi lama-lama aku iba sama dia,
Setelah capek ngeladenin cowok cupu itu
buat nitip salam sih, aku sempet kasih saran sama Sherlin, berargumen tentang apa
yang aku tahu soal si cupu. Intinya nih ya. Jangan mau deh di deketin dia,
jangan mau deh nanggepin dia. Karena aku yakin cupu cap pengecut itu tak benar-benar
berani mendekati Sherlin sahabatku.
Tak berani tanpa alasan jelas, mungkin
nyalinya hilang begitu saja. Atau bahkan dia tak punya nyali sedikitpun untuk
membenarkan perasaannya di hadapan sahabatku.
Dan beberapa sebab itulah aku mengenal
cowok cupu pengecut itu tanpa sengaja. Tanpa sengaja aku membenci dengan ribuan
kekurangannya. Termasuk membenci sikapnya yang tak bernyali itu.
Cerita berganti, mengikuti hari yang berganti pula..
Aku
mengenalmu, dan kamu mengenalku
Aku
di kenalmu, dan kamu di kenalku
Yang
berbeda adalah kamu terkenal dan aku tidak cukup di kenal
Sewaktu suatu hal yang kita remehkan
justru sangat tersohor menarik bahkan mengalahkan segala kemampuan kita, itu
adalah sesuatu yang membuat kita mengungkapkan penyesalan. Penyesalan karena
kata yang telah kita keluarkan untuk meremehkannya.
Kamu menang, bukan untuk mendapatkan
seorang Sherlin sahabatku. Tapi kamu dapat menggeser posisi kuota tim basket
sekolah untuk maju dalam pertandingan. Kamu menang! Ya, aku sempat tak percaya
akan hal itu. Karena aku sempat meremehkan kemampuanmu yang menurutku cupu
& pengecut. Bahkan kamu lemah di banding aku seorang Mala yang tomboy gemar
basket ini.
Seorang pengecut yang aku kenal dahulu?
Berada di atas, dan aku jadi tak berarti
apapun karena nya? Yaaaampun. Mimpi apa aku semalam? Dia merebut posisi dalam tim
basket sekolah kami, yang sudah lama aku impikan.
Selamat buat keberhasilan Dicky,
Sempat
meremehkan, sang pengecut yang ku kenal dahulu? Dia sudah lenyap bahkan mati di
tengah kedewasaannya. Kedewasaan dalam menyusun strategi dalam bertanding dan
juga dalam memimpin tim basket sekolah kami.
Berita baru, setelah kami tak lagi bertatap muka bahkan
bercerita tentang dirinya.
Menggandeng wanita yang cukup popular?
Bukan Sherlin sahabatku, tapi dia teman
les bahasa inggrisku di luar sekolah. Walau kami teman satu tempat les, aku tak
kenal baik dengannya. Di tambah posisi satu tingkat di atas kelasku, kami
memang jauh. Kesimpulannya, kamu emang buktiin kalau kamu itu MEMPESONA. Walaupun aku sendiri belum
setuju untuk mengatakan itu.
Singkat cerita, seusai kisah cintamu itu,
aku masih belum mendapati beberapa cerita langsung darimu.
Penugasaan tanggung jawablah yang
mempertemukan kami kembali untuk saling berkoordinasi dalam pekerjaan.
Kebetulan kami beda kelas, namun sama-sama diberi amanat sebagai ketua kelas.
Hari itu memang urusan kesiswaan melibatkan ketua kelas untuk ikut bakti sosial.
Dan aku datang tanpa benci sedikitpun. Hanya heran..heran dan
heran ..
Aku penasaran dengan kamu, kamu yang
sangat jauh berbeda saat pertama kali aku dapat mengenalmu tanpa sengaja. Kamu
kembali bercerita tentang hidupmu, dan aku juga kadang bercerita tentang
hidupku.
Cerita demi cerita?
Kami berbagi, kami beraksi untuk memecahkan permasalahan yang
kami hadapi.
Aku mengagumimu dalam sepi, mengingat
nasehatmu dalam diri, membaca pikiranmu dalam ilusi, dan aku semakin mengenal
kamu.
Kamu memang seorang yang peduli aku di
luar sana. Yang mau dengan senang hati mendengarkanku, dalam suka maupun dukaku.
Begitu juga aku, aku selalu berusaha untuk perlakukan kamu seperti itu.
Tapi apa jadinya bila aku benar-benar mulai mengagumi sosokmu
yang bagai pahlawan dalam hidup tumbangku ini?
Kamu membuatku tersihir, kamu membuatku
tak bernyawa dalam bijak. Mengharuskan aku sejalan dengan pikiranmu. Dan itu
artinya aku menyukaimu diam-diam setelah aku mengenalmu lebih jauh lewat
berbagi cerita antara aku dan kamu.
Hal bodoh! Hal bodoh
yang telah aku rasakan ini, aku tak dapat bercerita dengan siapapun akan
perasaan ini. Cukup aku, ya cukup aku. Biarkan hanya kupandang kamu dari jauh, lewat ekor mataku.
Biarkan aku menghayati bayangmu, menggemari pesonamu. Cukup begitu saja…
Karena satu diantara cerita
hidupmu adalah kamu lagi-lagi mengagumi seorang dekat denganku. Cantika, sebut
saja begitu. Namanya seolah menggambarkan keadaannya yang rupawan ayu seperti
namanya. Aku tidak kecewa akan perasaanmu untuknya, aku hanya kecewa mengapa
kamu tak menyadari keberadaanku selama ini.
Semuanya sudah biasa, berjalan
begitu saja. Cantika yang religious, ramah pada setiap orang dan Dicky yang
nampaknya kembali menjadi pengecut tak cepat bertatap muka. Mungkin rasa takut Dicky
mengalahkan nyalinya kembali untuk mengungkap apapun yang dia rasa. Dan
lagi-lagi dia hanya dapat berterus terang denganku, sesekali dia menganggapku
sebagai Cantika seorang yang dia cinta. Lalu bagaimana bila aku semakin nyaman
dengan perlakuan palsu itu? Apa aku akan semakin sakit bila mengetahui
kenyataan yang tidak sesuai?
Tidak, ku
yakinkan diriku untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang sempat menghantuiku.
Aku berhasil, ketika aku harus bersikap
cuek di depanmu. Ketika kamu menahanku dengarkan ceritamu tentang Cantika. Kamu
heran, mangapa aku berubah.
Tahun berganti, begitu juga sama
seperti amanah ketua kelas yang ikut berganti. Aku ataupun Dicky tak lagi
menjadi ketua kelas, kami juga tak mengikuti kegiatan bakti sosial karena bukan
kami lagi yang di amanati oleh sekolah untuk mewakilinya. Kekosongan itu
berlangsung begitu saja, sebelum kegiatan terakhir baksos yang kami lakukan
bersama.
Kembali Dicky bercerita tentang wanita lain
yang belum lama ini mengaku kagum dengan menganggap Dicky special untuknya.
Namanya Laras,
aku mengenalnya cukup baik. Dan lagi Dicky bicara soal cinta dan
kebingungannya. Biasanya aku beri komentar sesuai dengan apa yang aku pikir
saja. Tentang kamu, antara Cantika ataupun Laras.
Dua hari berlalu, pesan puitis yang sudah lama
tidak ku dapati dalam inboxku kini muncul lagi dan itu dari kamu. Setelah
sempat ikut terlarut dalam rangkaian puisi. Aku kembali terbang dan menuliskan
beberapa tanggapan,
Tiba-tiba kamu memanggilku “dear” hah? Apa dia sedang
mabuk? Mabuk kenapa? Rupanya dia sedang mabuk cinta yang tak lama dia kirim pesan
singkat kepadaku “Apology I
Have Been With It”
seketika aku menangis entah kenapa?
Ya Tuhan, tercabik hebat perasaan ini…
To be continue……

0 komentar:
Posting Komentar