Jumat, 25 Januari 2013

Apology I Have Been With It



Siapa kamu yang misterius?
Siapa kamu yang bersembunyi di balik olok kawan sebayamu itu? Bisa di bilang kamu bagai pengecut yang gemar mengumbar cinta.
Yang mengagumi teman sebangku-ku.Tanpa kata, hanya laga yang sok tampan dengan sejuta pesona.Walaupun tak ada yang membenarkan kau itu mempesona.
Perkenalkan namaku Chintya Diksha Kumala, teman-teman dan sahabatku biasa memanggilku Mala. Pendiam tapi banyak berfikir itu pribadiku, kadang malah kocak abis. Lebih-lebih sahabat-sahabatku mengenalku juga alay :D
Ya, itu sih kata sahabatku Sherlin Alivi yang super baik banget sama aku. Jelas baiknya itu orangnya setia buat dengerin curhatanku. Hehe bisa di bilanglah mutualisme, walaupun kebanyak untung di aku :D
Salah satunya tuh aku sering curhat soal gebetan, biasanya gebetan terbaru. *0ps! Yah walaupun banyak yang berakhir tragis karena sekedar mengagumi saja.
Oyaa, aku juga punya satu nama yang belum aku kenalin ke kalian. Namanya Dicky Samudra, panggil saja Dicky. Menurutku dia itu sama sekali nggak ganteng. Malah sok ganteng, aslinya sih cuma nama doang yang agak keren. Tapi yaa gimana ya jelasinnya, gitu deh :P dewasa banget orangnya…
Aku mau cerita nih, dan itu GALAU bgt. Please deh ah.. sekali-kali kalian jadi Sherlin eapps! Check this out :D
Waktu itu aku pernah di maintain tolong sama Dicky, dia nyuruh aku nyampein salam nya buat sahabatku. Tau kan siapa? Eapss! Salam itu buat Sherlin temen sebangku-ku sekaligus sahabat tercintaku. Rasanya pengen cepat-cepat lari jauh-jauh dari cowok cupu itu. Ya itung-itung ngga ada urusan, dengan lelaki pengecut itu. Tapi lama-lama aku iba sama dia,
Setelah capek ngeladenin cowok cupu itu buat nitip salam sih, aku sempet kasih saran sama Sherlin, berargumen tentang apa yang aku tahu soal si cupu. Intinya nih ya. Jangan mau deh di deketin dia, jangan mau deh nanggepin dia. Karena aku yakin cupu cap pengecut itu tak benar-benar berani mendekati Sherlin sahabatku.
Tak berani tanpa alasan jelas, mungkin nyalinya hilang begitu saja. Atau bahkan dia tak punya nyali sedikitpun untuk membenarkan perasaannya di hadapan sahabatku.
Dan beberapa sebab itulah aku mengenal cowok cupu pengecut itu tanpa sengaja. Tanpa sengaja aku membenci dengan ribuan kekurangannya. Termasuk membenci sikapnya yang tak bernyali itu.
Cerita berganti, mengikuti hari yang berganti pula..
Aku mengenalmu, dan kamu mengenalku
Aku di kenalmu, dan kamu di kenalku
Yang berbeda adalah kamu terkenal dan aku tidak cukup di kenal
Sewaktu suatu hal yang kita remehkan justru sangat tersohor menarik bahkan mengalahkan segala kemampuan kita, itu adalah sesuatu yang membuat kita mengungkapkan penyesalan. Penyesalan karena kata yang telah kita keluarkan untuk meremehkannya.
Kamu menang, bukan untuk mendapatkan seorang Sherlin sahabatku. Tapi kamu dapat menggeser posisi kuota tim basket sekolah untuk maju dalam pertandingan. Kamu menang! Ya, aku sempat tak percaya akan hal itu. Karena aku sempat meremehkan kemampuanmu yang menurutku cupu & pengecut. Bahkan kamu lemah di banding aku seorang Mala yang tomboy gemar basket ini.
Seorang pengecut yang aku kenal dahulu?
Berada di atas, dan aku jadi tak berarti apapun karena nya? Yaaaampun. Mimpi apa aku semalam? Dia merebut posisi dalam tim basket sekolah kami, yang sudah lama aku impikan.
Selamat buat keberhasilan Dicky,
 Sempat meremehkan, sang pengecut yang ku kenal dahulu? Dia sudah lenyap bahkan mati di tengah kedewasaannya. Kedewasaan dalam menyusun strategi dalam bertanding dan juga dalam memimpin tim basket sekolah kami.
Berita baru, setelah kami tak lagi bertatap muka bahkan bercerita tentang dirinya.
Menggandeng wanita yang cukup popular?
Bukan Sherlin sahabatku, tapi dia teman les bahasa inggrisku di luar sekolah. Walau kami teman satu tempat les, aku tak kenal baik dengannya. Di tambah posisi satu tingkat di atas kelasku, kami memang jauh. Kesimpulannya, kamu emang buktiin kalau kamu itu MEMPESONA. Walaupun aku sendiri belum setuju untuk mengatakan itu.
Singkat cerita, seusai kisah cintamu itu, aku masih belum mendapati beberapa cerita langsung darimu.
Penugasaan tanggung jawablah yang mempertemukan kami kembali untuk saling berkoordinasi dalam pekerjaan. Kebetulan kami beda kelas, namun sama-sama diberi amanat sebagai ketua kelas. Hari itu memang urusan kesiswaan melibatkan ketua kelas untuk ikut bakti sosial.
Dan aku datang tanpa benci sedikitpun. Hanya heran..heran dan heran ..
Aku penasaran dengan kamu, kamu yang sangat jauh berbeda saat pertama kali aku dapat mengenalmu tanpa sengaja. Kamu kembali bercerita tentang hidupmu, dan aku juga kadang bercerita tentang hidupku.
Cerita demi cerita?
Kami berbagi, kami beraksi untuk memecahkan permasalahan yang kami hadapi.
Aku mengagumimu dalam sepi, mengingat nasehatmu dalam diri, membaca pikiranmu dalam ilusi, dan aku semakin mengenal kamu.
Kamu memang seorang yang peduli aku di luar sana. Yang mau dengan senang hati mendengarkanku, dalam suka maupun dukaku. Begitu juga aku, aku selalu berusaha untuk perlakukan kamu seperti itu.
Tapi apa jadinya bila aku benar-benar mulai mengagumi sosokmu yang bagai pahlawan dalam hidup tumbangku ini?
Kamu membuatku tersihir, kamu membuatku tak bernyawa dalam bijak. Mengharuskan aku sejalan dengan pikiranmu. Dan itu artinya aku menyukaimu diam-diam setelah aku mengenalmu lebih jauh lewat berbagi cerita antara aku dan kamu.
Hal bodoh! Hal bodoh yang telah aku rasakan ini, aku tak dapat bercerita dengan siapapun akan perasaan ini. Cukup aku, ya cukup aku. Biarkan hanya kupandang kamu dari jauh, lewat ekor mataku. Biarkan aku menghayati bayangmu, menggemari pesonamu. Cukup begitu saja…
Karena satu diantara cerita hidupmu adalah kamu lagi-lagi mengagumi seorang dekat denganku. Cantika, sebut saja begitu. Namanya seolah menggambarkan keadaannya yang rupawan ayu seperti namanya. Aku tidak kecewa akan perasaanmu untuknya, aku hanya kecewa mengapa kamu tak menyadari keberadaanku selama ini.
Semuanya sudah biasa, berjalan begitu saja. Cantika yang religious, ramah pada setiap orang dan Dicky yang nampaknya kembali menjadi pengecut tak cepat bertatap muka. Mungkin rasa takut Dicky mengalahkan nyalinya kembali untuk mengungkap apapun yang dia rasa. Dan lagi-lagi dia hanya dapat berterus terang denganku, sesekali dia menganggapku sebagai Cantika seorang yang dia cinta. Lalu bagaimana bila aku semakin nyaman dengan perlakuan palsu itu? Apa aku akan semakin sakit bila mengetahui kenyataan yang tidak sesuai?
            Tidak, ku yakinkan diriku untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang sempat menghantuiku. Aku  berhasil, ketika aku harus bersikap cuek di depanmu. Ketika kamu menahanku dengarkan ceritamu tentang Cantika. Kamu heran, mangapa aku berubah.
Tahun berganti, begitu juga sama seperti amanah ketua kelas yang ikut berganti. Aku ataupun Dicky tak lagi menjadi ketua kelas, kami juga tak mengikuti kegiatan bakti sosial karena bukan kami lagi yang di amanati oleh sekolah untuk mewakilinya. Kekosongan itu berlangsung begitu saja, sebelum kegiatan terakhir baksos yang kami lakukan bersama.
 Kembali Dicky bercerita tentang wanita lain yang belum lama ini mengaku kagum dengan menganggap Dicky special untuknya. Namanya Laras, aku mengenalnya cukup baik. Dan lagi Dicky bicara soal cinta dan kebingungannya. Biasanya aku beri komentar sesuai dengan apa yang aku pikir saja. Tentang kamu, antara Cantika ataupun Laras.
 Dua hari berlalu, pesan puitis yang sudah lama tidak ku dapati dalam inboxku kini muncul lagi dan itu dari kamu. Setelah sempat ikut terlarut dalam rangkaian puisi. Aku kembali terbang dan menuliskan beberapa tanggapan,
Tiba-tiba  kamu memanggilku “dear” hah? Apa dia sedang mabuk? Mabuk kenapa? Rupanya dia sedang mabuk cinta yang tak lama dia kirim pesan singkat kepadaku “Apology I Have Been With It” seketika aku menangis entah kenapa?
Ya Tuhan, tercabik hebat perasaan ini…
      
To be continue……






0 komentar:

Posting Komentar

Jumat, 25 Januari 2013

Apology I Have Been With It

Diposting oleh Primasdiahap di 19.59


Siapa kamu yang misterius?
Siapa kamu yang bersembunyi di balik olok kawan sebayamu itu? Bisa di bilang kamu bagai pengecut yang gemar mengumbar cinta.
Yang mengagumi teman sebangku-ku.Tanpa kata, hanya laga yang sok tampan dengan sejuta pesona.Walaupun tak ada yang membenarkan kau itu mempesona.
Perkenalkan namaku Chintya Diksha Kumala, teman-teman dan sahabatku biasa memanggilku Mala. Pendiam tapi banyak berfikir itu pribadiku, kadang malah kocak abis. Lebih-lebih sahabat-sahabatku mengenalku juga alay :D
Ya, itu sih kata sahabatku Sherlin Alivi yang super baik banget sama aku. Jelas baiknya itu orangnya setia buat dengerin curhatanku. Hehe bisa di bilanglah mutualisme, walaupun kebanyak untung di aku :D
Salah satunya tuh aku sering curhat soal gebetan, biasanya gebetan terbaru. *0ps! Yah walaupun banyak yang berakhir tragis karena sekedar mengagumi saja.
Oyaa, aku juga punya satu nama yang belum aku kenalin ke kalian. Namanya Dicky Samudra, panggil saja Dicky. Menurutku dia itu sama sekali nggak ganteng. Malah sok ganteng, aslinya sih cuma nama doang yang agak keren. Tapi yaa gimana ya jelasinnya, gitu deh :P dewasa banget orangnya…
Aku mau cerita nih, dan itu GALAU bgt. Please deh ah.. sekali-kali kalian jadi Sherlin eapps! Check this out :D
Waktu itu aku pernah di maintain tolong sama Dicky, dia nyuruh aku nyampein salam nya buat sahabatku. Tau kan siapa? Eapss! Salam itu buat Sherlin temen sebangku-ku sekaligus sahabat tercintaku. Rasanya pengen cepat-cepat lari jauh-jauh dari cowok cupu itu. Ya itung-itung ngga ada urusan, dengan lelaki pengecut itu. Tapi lama-lama aku iba sama dia,
Setelah capek ngeladenin cowok cupu itu buat nitip salam sih, aku sempet kasih saran sama Sherlin, berargumen tentang apa yang aku tahu soal si cupu. Intinya nih ya. Jangan mau deh di deketin dia, jangan mau deh nanggepin dia. Karena aku yakin cupu cap pengecut itu tak benar-benar berani mendekati Sherlin sahabatku.
Tak berani tanpa alasan jelas, mungkin nyalinya hilang begitu saja. Atau bahkan dia tak punya nyali sedikitpun untuk membenarkan perasaannya di hadapan sahabatku.
Dan beberapa sebab itulah aku mengenal cowok cupu pengecut itu tanpa sengaja. Tanpa sengaja aku membenci dengan ribuan kekurangannya. Termasuk membenci sikapnya yang tak bernyali itu.
Cerita berganti, mengikuti hari yang berganti pula..
Aku mengenalmu, dan kamu mengenalku
Aku di kenalmu, dan kamu di kenalku
Yang berbeda adalah kamu terkenal dan aku tidak cukup di kenal
Sewaktu suatu hal yang kita remehkan justru sangat tersohor menarik bahkan mengalahkan segala kemampuan kita, itu adalah sesuatu yang membuat kita mengungkapkan penyesalan. Penyesalan karena kata yang telah kita keluarkan untuk meremehkannya.
Kamu menang, bukan untuk mendapatkan seorang Sherlin sahabatku. Tapi kamu dapat menggeser posisi kuota tim basket sekolah untuk maju dalam pertandingan. Kamu menang! Ya, aku sempat tak percaya akan hal itu. Karena aku sempat meremehkan kemampuanmu yang menurutku cupu & pengecut. Bahkan kamu lemah di banding aku seorang Mala yang tomboy gemar basket ini.
Seorang pengecut yang aku kenal dahulu?
Berada di atas, dan aku jadi tak berarti apapun karena nya? Yaaaampun. Mimpi apa aku semalam? Dia merebut posisi dalam tim basket sekolah kami, yang sudah lama aku impikan.
Selamat buat keberhasilan Dicky,
 Sempat meremehkan, sang pengecut yang ku kenal dahulu? Dia sudah lenyap bahkan mati di tengah kedewasaannya. Kedewasaan dalam menyusun strategi dalam bertanding dan juga dalam memimpin tim basket sekolah kami.
Berita baru, setelah kami tak lagi bertatap muka bahkan bercerita tentang dirinya.
Menggandeng wanita yang cukup popular?
Bukan Sherlin sahabatku, tapi dia teman les bahasa inggrisku di luar sekolah. Walau kami teman satu tempat les, aku tak kenal baik dengannya. Di tambah posisi satu tingkat di atas kelasku, kami memang jauh. Kesimpulannya, kamu emang buktiin kalau kamu itu MEMPESONA. Walaupun aku sendiri belum setuju untuk mengatakan itu.
Singkat cerita, seusai kisah cintamu itu, aku masih belum mendapati beberapa cerita langsung darimu.
Penugasaan tanggung jawablah yang mempertemukan kami kembali untuk saling berkoordinasi dalam pekerjaan. Kebetulan kami beda kelas, namun sama-sama diberi amanat sebagai ketua kelas. Hari itu memang urusan kesiswaan melibatkan ketua kelas untuk ikut bakti sosial.
Dan aku datang tanpa benci sedikitpun. Hanya heran..heran dan heran ..
Aku penasaran dengan kamu, kamu yang sangat jauh berbeda saat pertama kali aku dapat mengenalmu tanpa sengaja. Kamu kembali bercerita tentang hidupmu, dan aku juga kadang bercerita tentang hidupku.
Cerita demi cerita?
Kami berbagi, kami beraksi untuk memecahkan permasalahan yang kami hadapi.
Aku mengagumimu dalam sepi, mengingat nasehatmu dalam diri, membaca pikiranmu dalam ilusi, dan aku semakin mengenal kamu.
Kamu memang seorang yang peduli aku di luar sana. Yang mau dengan senang hati mendengarkanku, dalam suka maupun dukaku. Begitu juga aku, aku selalu berusaha untuk perlakukan kamu seperti itu.
Tapi apa jadinya bila aku benar-benar mulai mengagumi sosokmu yang bagai pahlawan dalam hidup tumbangku ini?
Kamu membuatku tersihir, kamu membuatku tak bernyawa dalam bijak. Mengharuskan aku sejalan dengan pikiranmu. Dan itu artinya aku menyukaimu diam-diam setelah aku mengenalmu lebih jauh lewat berbagi cerita antara aku dan kamu.
Hal bodoh! Hal bodoh yang telah aku rasakan ini, aku tak dapat bercerita dengan siapapun akan perasaan ini. Cukup aku, ya cukup aku. Biarkan hanya kupandang kamu dari jauh, lewat ekor mataku. Biarkan aku menghayati bayangmu, menggemari pesonamu. Cukup begitu saja…
Karena satu diantara cerita hidupmu adalah kamu lagi-lagi mengagumi seorang dekat denganku. Cantika, sebut saja begitu. Namanya seolah menggambarkan keadaannya yang rupawan ayu seperti namanya. Aku tidak kecewa akan perasaanmu untuknya, aku hanya kecewa mengapa kamu tak menyadari keberadaanku selama ini.
Semuanya sudah biasa, berjalan begitu saja. Cantika yang religious, ramah pada setiap orang dan Dicky yang nampaknya kembali menjadi pengecut tak cepat bertatap muka. Mungkin rasa takut Dicky mengalahkan nyalinya kembali untuk mengungkap apapun yang dia rasa. Dan lagi-lagi dia hanya dapat berterus terang denganku, sesekali dia menganggapku sebagai Cantika seorang yang dia cinta. Lalu bagaimana bila aku semakin nyaman dengan perlakuan palsu itu? Apa aku akan semakin sakit bila mengetahui kenyataan yang tidak sesuai?
            Tidak, ku yakinkan diriku untuk kemungkinan-kemungkinan buruk yang sempat menghantuiku. Aku  berhasil, ketika aku harus bersikap cuek di depanmu. Ketika kamu menahanku dengarkan ceritamu tentang Cantika. Kamu heran, mangapa aku berubah.
Tahun berganti, begitu juga sama seperti amanah ketua kelas yang ikut berganti. Aku ataupun Dicky tak lagi menjadi ketua kelas, kami juga tak mengikuti kegiatan bakti sosial karena bukan kami lagi yang di amanati oleh sekolah untuk mewakilinya. Kekosongan itu berlangsung begitu saja, sebelum kegiatan terakhir baksos yang kami lakukan bersama.
 Kembali Dicky bercerita tentang wanita lain yang belum lama ini mengaku kagum dengan menganggap Dicky special untuknya. Namanya Laras, aku mengenalnya cukup baik. Dan lagi Dicky bicara soal cinta dan kebingungannya. Biasanya aku beri komentar sesuai dengan apa yang aku pikir saja. Tentang kamu, antara Cantika ataupun Laras.
 Dua hari berlalu, pesan puitis yang sudah lama tidak ku dapati dalam inboxku kini muncul lagi dan itu dari kamu. Setelah sempat ikut terlarut dalam rangkaian puisi. Aku kembali terbang dan menuliskan beberapa tanggapan,
Tiba-tiba  kamu memanggilku “dear” hah? Apa dia sedang mabuk? Mabuk kenapa? Rupanya dia sedang mabuk cinta yang tak lama dia kirim pesan singkat kepadaku “Apology I Have Been With It” seketika aku menangis entah kenapa?
Ya Tuhan, tercabik hebat perasaan ini…
      
To be continue……






0 komentar on "Apology I Have Been With It"

Posting Komentar

 
Reaching Dream of the Past Blogger Template by Ipietoon Blogger Template
Cute Hello Kitty 2