#Prolog.
Entah
apa yang aku pikirkan, siang menjelang sore itu sempat disisipi gerimis ringan.
Membasuh bangku yang sengaja hari ini ingin ku duduki. Saat semua orang sibuk
dengan kegiatan masing-masing, tapi mengapa rasanya hanya aku yang tidak
terpaut sibuk. Entah, proksi hari ini pun tak ada. Dan jreng
jreng faktor itu bahkan mendukung ke-selo-an ku. Aku sama sekali tak merasa
niat ataupun malas. Lalu apa yang aku rasa? Ya, lagi-lagi entahlah.
#Pramuka.
Okay,
rasanya masih cukup gerah walau sempat di sentuh gerimis. Entah
apa lagi yang sudah melintas di pikiranku saat aku benar-benar berdiri tegak
dalam barisan sangga pramuka kala itu. Tak lagi kelopak mata ini mencari gores
manusia di pojok kelas yang beberapa puluh ratus lalu sempat aku kagumi. Iya, memang
tak lagi dia. Melainkan seorang yang sebenarnya cukup lama sering melintas di
benakku namun tak sedikitpun aku memautkan pandangku padanya. Sebut saja
“Dimas” aku pun tak pernah tahu detail mengenai seberapa besar intensitasku
memikirkannya, paling tidak itu sangat jauh jika dibandingkan kala aku
memikirkan manusia di pojok kelas.
Baiklah
karena aku sudah tak lagi memikirkan manusia di pojok kelas, jadi aku akan
mulai bercerita lebih detail mengenai
“Dimas”. Badannya tinggi tegap, rambutnya
hitam dengan sedikit aroma ikal namun tetap rapi di pandang. Senyumnya manis
menawan bak senja yang malu-malu menutup dirinya ketika harus benar-benar di
butuhkan di bumi belahan yang secepat mungkin memerlukan sinar pesonanya.
“Istirahat
di tempat grakk!!” kata pemimpin upacara saat penutupan kegiatan rutin pramuka
menghentak kami semua yang benar-benar kehilangan konsentrasi. Termasuk aku
alih-alih memperhatikan pemimpin, masih saja aku asyik berkutat dengan senyum
“Dimas” yang begitu indah.
“Kepada
pembina upacara, hormat grakkk!” loh? Kok belum di siapin malah udah hormat..
gerutu beberapa orang yang memusatkan konsentrasinya pada upacara ini. Dan
jreng-jreng, aku kagum. “Dimas” pun tidak menghormat pada pembina. Mungkin dia
sangat disiplin dalam baris-berbaris yang pernah menempanya beberapa bulan
lalu. Iya, “Dimas” adalah salah satu wakil sekolah kami sebagai pleton inti.
Hebat bukan :)
#Pulang.
Taukah
kalian aku di kira kakak kelas sama temen satu angkatan, dari situ aku langsung
mikir. HAHAHA.. Yasudahlah,
“Hei aku masih
kelas sepuuuuluhh loooo” kataku menjelaskan.
Apa karena
badanku yang jauh lebih besar, jadi dia pikir aku kakak kelasnya. “Ohhhhhh-_-”
Taukah kamu
hal apa yang paling aku suka?
Spesifiknya dong Prims, maksudmu suka tentang apa?
Okay aku kasih
tahu aja deh langsung. Jadi gini aku cuma mau bilang kalau aku suka banget sama
senja, apalagi senja nya warna merah muda gituuu..
Oalah jadi cuma mau bilang itu Prims-_-
Iyaa hehe:)
Eh
tunggu duluuu, ceritanya belum selesai loo. Kan ini hastagnya “Jalan menuju
rumah tercinta” nah waktu berjalan beriringan dengan jarum jam yang terus
menerus entah karena apa dia berputar. Mungkin jam
berputar terus menerus karena dia tidak pernah merasa lelah, bukan seperti aku
yang sedikit-sedikit ngeluh capek dan blablaa *eh apaan sih-_-
Kalian
inget nggak aku pernah nulis tentang Senja di Singapore Flyer? Yahh, masak udah
lupa sih? Nah aku terinspirasi banget untuk mewujudkan cerita khayalku itu,
sebenarnya nggak begitu khayal sih. Karena awalnya aku nulis berdasar
pengalaman seseorang. Lanjut deeh, walaupun cerita Senja di Singapore Flyer itu
hampir mirip-mirip ftv dan serasa settingan abis, aku nggak pernah capek loo
pemirsaa buat mewujudkan cerita itu walau hanya dalam makna *serupa tapi tak
sama* dan jauh lebih sederhana.
Iya.
Aku hanya cukup melihat senja beraroma merah muda warna favorite ku dan
tentunya tak harus di pantai, bukit, lembah, jurang sekalipun. Karena aku hanya
cukup melihatnya bersamamu di atas kedua roda-roda yang saling mengayun. Di
atas roda-roda yang saling berkejaran. Di atas roda-roda yang saling memangku
kita dengan setia melewati bermacam medan untuk sampai ke rumah tercinta
(re:motor).
“Dim”
betapa cantik paras sang senja. Tepat di depan kami dia menggantung bulat tanpa
sipuan malu. Bukan lagi hanya segores jingga mengalahkan mega. Tapi ini sungguh
berkilau merah muda. Dan aku terpaut cukup lama dalam balutan senja tepat di
antara salam perpisahan antara aku dan kamu. Terima kasih “Dimas” senja sore ini
begitu anggun untuk di tuliskan.
-Primas Diah Ayu Puspitasari-
Menikmati senja, pulang pramuka

0 komentar:
Posting Komentar