Sabtu, 03 Mei 2014

Lalala TIJEL



#Prolog.
Entah apa yang aku pikirkan, siang menjelang sore itu sempat disisipi gerimis ringan. Membasuh bangku yang sengaja hari ini ingin ku duduki. Saat semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, tapi mengapa rasanya hanya aku yang tidak terpaut sibuk. Entah, proksi hari ini pun tak ada. Dan jreng jreng faktor itu bahkan mendukung ke-selo-an ku. Aku sama sekali tak merasa niat ataupun malas. Lalu apa yang aku rasa? Ya, lagi-lagi entahlah.
#Pramuka.
Okay, rasanya masih cukup gerah walau sempat di sentuh gerimis. Entah apa lagi yang sudah melintas di pikiranku saat aku benar-benar berdiri tegak dalam barisan sangga pramuka kala itu. Tak lagi kelopak mata ini mencari gores manusia di pojok kelas yang beberapa puluh ratus lalu sempat aku kagumi. Iya, memang tak lagi dia. Melainkan seorang yang sebenarnya cukup lama sering melintas di benakku namun tak sedikitpun aku memautkan pandangku padanya. Sebut saja “Dimas” aku pun tak pernah tahu detail mengenai seberapa besar intensitasku memikirkannya, paling tidak itu sangat jauh jika dibandingkan kala aku memikirkan manusia di pojok kelas.
Baiklah karena aku sudah tak lagi memikirkan manusia di pojok kelas, jadi aku akan mulai bercerita lebih detail mengenai
“Dimas”. Badannya tinggi tegap, rambutnya hitam dengan sedikit aroma ikal namun tetap rapi di pandang. Senyumnya manis menawan bak senja yang malu-malu menutup dirinya ketika harus benar-benar di butuhkan di bumi belahan yang secepat mungkin memerlukan sinar pesonanya.
“Istirahat di tempat grakk!!” kata pemimpin upacara saat penutupan kegiatan rutin pramuka menghentak kami semua yang benar-benar kehilangan konsentrasi. Termasuk aku alih-alih memperhatikan pemimpin, masih saja aku asyik berkutat dengan senyum “Dimas” yang begitu indah.
“Kepada pembina upacara, hormat grakkk!” loh? Kok belum di siapin malah udah hormat.. gerutu beberapa orang yang memusatkan konsentrasinya pada upacara ini. Dan jreng-jreng, aku kagum. “Dimas” pun tidak menghormat pada pembina. Mungkin dia sangat disiplin dalam baris-berbaris yang pernah menempanya beberapa bulan lalu. Iya, “Dimas” adalah salah satu wakil sekolah kami sebagai pleton inti. Hebat bukan :)
#Pulang.
Taukah kalian aku di kira kakak kelas sama temen satu angkatan, dari situ aku langsung mikir. HAHAHA.. Yasudahlah,
“Hei aku masih kelas sepuuuuluhh loooo” kataku menjelaskan.
Apa karena badanku yang jauh lebih besar, jadi dia pikir aku kakak kelasnya. “Ohhhhhh-_-”

#Jalan menuju rumah tercinta.
Taukah kamu hal apa yang paling aku suka?
Spesifiknya dong Prims, maksudmu suka tentang apa?
Okay aku kasih tahu aja deh langsung. Jadi gini aku cuma mau bilang kalau aku suka banget sama senja, apalagi senja nya warna merah muda gituuu..
Oalah jadi cuma mau bilang itu Prims-_-
Iyaa hehe:)
           
            Eh tunggu duluuu, ceritanya belum selesai loo. Kan ini hastagnya “Jalan menuju rumah tercinta” nah waktu berjalan beriringan dengan jarum jam yang terus menerus entah karena apa dia berputar. Mungkin jam berputar terus menerus karena dia tidak pernah merasa lelah, bukan seperti aku yang sedikit-sedikit ngeluh capek dan blablaa *eh apaan sih-_-
            Kalian inget nggak aku pernah nulis tentang Senja di Singapore Flyer? Yahh, masak udah lupa sih? Nah aku terinspirasi banget untuk mewujudkan cerita khayalku itu, sebenarnya nggak begitu khayal sih. Karena awalnya aku nulis berdasar pengalaman seseorang. Lanjut deeh, walaupun cerita Senja di Singapore Flyer itu hampir mirip-mirip ftv dan serasa settingan abis, aku nggak pernah capek loo pemirsaa buat mewujudkan cerita itu walau hanya dalam makna *serupa tapi tak sama* dan jauh lebih sederhana.
            Iya. Aku hanya cukup melihat senja beraroma merah muda warna favorite ku dan tentunya tak harus di pantai, bukit, lembah, jurang sekalipun. Karena aku hanya cukup melihatnya bersamamu di atas kedua roda-roda yang saling mengayun. Di atas roda-roda yang saling berkejaran. Di atas roda-roda yang saling memangku kita dengan setia melewati bermacam medan untuk sampai ke rumah tercinta (re:motor).
            “Dim” betapa cantik paras sang senja. Tepat di depan kami dia menggantung bulat tanpa sipuan malu. Bukan lagi hanya segores jingga mengalahkan mega. Tapi ini sungguh berkilau merah muda. Dan aku terpaut cukup lama dalam balutan senja tepat di antara salam perpisahan antara aku dan kamu. Terima kasih “Dimas” senja sore ini begitu anggun untuk di tuliskan.
           
-Primas Diah Ayu Puspitasari-
Menikmati senja, pulang pramuka

0 komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 03 Mei 2014

Lalala TIJEL

Diposting oleh Primasdiahap di 05.27


#Prolog.
Entah apa yang aku pikirkan, siang menjelang sore itu sempat disisipi gerimis ringan. Membasuh bangku yang sengaja hari ini ingin ku duduki. Saat semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing, tapi mengapa rasanya hanya aku yang tidak terpaut sibuk. Entah, proksi hari ini pun tak ada. Dan jreng jreng faktor itu bahkan mendukung ke-selo-an ku. Aku sama sekali tak merasa niat ataupun malas. Lalu apa yang aku rasa? Ya, lagi-lagi entahlah.
#Pramuka.
Okay, rasanya masih cukup gerah walau sempat di sentuh gerimis. Entah apa lagi yang sudah melintas di pikiranku saat aku benar-benar berdiri tegak dalam barisan sangga pramuka kala itu. Tak lagi kelopak mata ini mencari gores manusia di pojok kelas yang beberapa puluh ratus lalu sempat aku kagumi. Iya, memang tak lagi dia. Melainkan seorang yang sebenarnya cukup lama sering melintas di benakku namun tak sedikitpun aku memautkan pandangku padanya. Sebut saja “Dimas” aku pun tak pernah tahu detail mengenai seberapa besar intensitasku memikirkannya, paling tidak itu sangat jauh jika dibandingkan kala aku memikirkan manusia di pojok kelas.
Baiklah karena aku sudah tak lagi memikirkan manusia di pojok kelas, jadi aku akan mulai bercerita lebih detail mengenai
“Dimas”. Badannya tinggi tegap, rambutnya hitam dengan sedikit aroma ikal namun tetap rapi di pandang. Senyumnya manis menawan bak senja yang malu-malu menutup dirinya ketika harus benar-benar di butuhkan di bumi belahan yang secepat mungkin memerlukan sinar pesonanya.
“Istirahat di tempat grakk!!” kata pemimpin upacara saat penutupan kegiatan rutin pramuka menghentak kami semua yang benar-benar kehilangan konsentrasi. Termasuk aku alih-alih memperhatikan pemimpin, masih saja aku asyik berkutat dengan senyum “Dimas” yang begitu indah.
“Kepada pembina upacara, hormat grakkk!” loh? Kok belum di siapin malah udah hormat.. gerutu beberapa orang yang memusatkan konsentrasinya pada upacara ini. Dan jreng-jreng, aku kagum. “Dimas” pun tidak menghormat pada pembina. Mungkin dia sangat disiplin dalam baris-berbaris yang pernah menempanya beberapa bulan lalu. Iya, “Dimas” adalah salah satu wakil sekolah kami sebagai pleton inti. Hebat bukan :)
#Pulang.
Taukah kalian aku di kira kakak kelas sama temen satu angkatan, dari situ aku langsung mikir. HAHAHA.. Yasudahlah,
“Hei aku masih kelas sepuuuuluhh loooo” kataku menjelaskan.
Apa karena badanku yang jauh lebih besar, jadi dia pikir aku kakak kelasnya. “Ohhhhhh-_-”

#Jalan menuju rumah tercinta.
Taukah kamu hal apa yang paling aku suka?
Spesifiknya dong Prims, maksudmu suka tentang apa?
Okay aku kasih tahu aja deh langsung. Jadi gini aku cuma mau bilang kalau aku suka banget sama senja, apalagi senja nya warna merah muda gituuu..
Oalah jadi cuma mau bilang itu Prims-_-
Iyaa hehe:)
           
            Eh tunggu duluuu, ceritanya belum selesai loo. Kan ini hastagnya “Jalan menuju rumah tercinta” nah waktu berjalan beriringan dengan jarum jam yang terus menerus entah karena apa dia berputar. Mungkin jam berputar terus menerus karena dia tidak pernah merasa lelah, bukan seperti aku yang sedikit-sedikit ngeluh capek dan blablaa *eh apaan sih-_-
            Kalian inget nggak aku pernah nulis tentang Senja di Singapore Flyer? Yahh, masak udah lupa sih? Nah aku terinspirasi banget untuk mewujudkan cerita khayalku itu, sebenarnya nggak begitu khayal sih. Karena awalnya aku nulis berdasar pengalaman seseorang. Lanjut deeh, walaupun cerita Senja di Singapore Flyer itu hampir mirip-mirip ftv dan serasa settingan abis, aku nggak pernah capek loo pemirsaa buat mewujudkan cerita itu walau hanya dalam makna *serupa tapi tak sama* dan jauh lebih sederhana.
            Iya. Aku hanya cukup melihat senja beraroma merah muda warna favorite ku dan tentunya tak harus di pantai, bukit, lembah, jurang sekalipun. Karena aku hanya cukup melihatnya bersamamu di atas kedua roda-roda yang saling mengayun. Di atas roda-roda yang saling berkejaran. Di atas roda-roda yang saling memangku kita dengan setia melewati bermacam medan untuk sampai ke rumah tercinta (re:motor).
            “Dim” betapa cantik paras sang senja. Tepat di depan kami dia menggantung bulat tanpa sipuan malu. Bukan lagi hanya segores jingga mengalahkan mega. Tapi ini sungguh berkilau merah muda. Dan aku terpaut cukup lama dalam balutan senja tepat di antara salam perpisahan antara aku dan kamu. Terima kasih “Dimas” senja sore ini begitu anggun untuk di tuliskan.
           
-Primas Diah Ayu Puspitasari-
Menikmati senja, pulang pramuka

0 komentar on "Lalala TIJEL"

Posting Komentar

 
Reaching Dream of the Past Blogger Template by Ipietoon Blogger Template
Cute Hello Kitty 2