Sabtu, 14 Januari 2017

Apakah Kamu (bukan) Jodoh (ku) ?



Jadi gini to rasanya mencintai tiba-tiba yang bahkan aku tak pernah menemuimu dalam nyata. Menatap mata, menggenggam tangan, bahkan melihat perawakanmu pun tak pernah. Anehnya aku mulai punya keyakinan dimana kamu bisa jadi imamku. Dan bahkan sudah jelas adanya kamu bilang kita tidak boleh membuat keyakinan itu. “Jalani saja..” katamu itu jadi peganganku, dan tentu aku mengikuti pernyataanmu itu. Suatu ketika, saat itu benar ada. KAMU sudah tidak mungkin ku jamah lagi. Harapan yang memang belum kupersiapkan kapan kan pupus ini. Ternyata harus berakhir. Saat ini. Walau sempat sebelumnya aku dibuatmu yakin bahwa aku tidak akan pernah salah untuk berharap padamu. Sesosok yang aku rasa dapat menjadi imam dalam keluargaku kelak. Penuh cinta, dewasa, pemimpin, sabar, pembimbing nan bijak, serta hangat ini sudah memilih wanita lain dibanding aku. Aku sadar, memang dari awal aku tak berniat untuk membuat harapan hidup bersamamu. Suasanalah yang membuatnya. Kini tepat ketika hampir 15 hari kamu terlihat berbeda, mungkin ini caramu mempersiapkan aku lepas dari candu kebersamaan. Aku tetap membawa erat harapanku sebelumnya. Masih sama. Pesan-pesanku yang kini hanya menjadi siluet dalam ponselmu itu tetap ada. Hanya saja kamu memastikannya selalu sirna tanpa jejak telah dibaca. Tetap saja aku masih menganggapnya normal. Hingga pada akhirnya kamu meyakinkan dengan kabar yang begitu membahagiakanmu dan membunuhku perlahan, menghindarkanku dari candumu yang begitu mengikat. Aku pengen nangis, serius.
“Aku lagi di bus, kebangun”
“Kemana?”
“ke Medan”
“Ngapain? Ok be carefull.”
“Ada acara”
“Acara apa? Tumben...”
“Nanti setelah acaranya selesai aku kasih tau kamu. Tahajud gih, biar barokah”
“Taaruf. Iyaa”
Dia membalasku dengan stiker meledek. Apa itu tandanya tebakanku benar? Taaruf? Fix. Finally that day already come. Aku belum siap tau bahwa hari ini aku harus merelakannya. Mau bagaimana? Mulai detik ini aku memang sudah seharusnya percaya bahwa jodoh benar ditangan Tuhan. Tak sepantasnya pula kita berharap dengan sesama. Karena sesungguhnya hanya Allah-lah yang akan selalu ada tanpa pernah meninggalkan kita.


Yogyakarta kala itu 12 Januari 2017 saat Primas sesak perlahan
Untuk orang Aceh yang sedang berbahagia di Medan 14 Januari 2017








0 komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 14 Januari 2017

Apakah Kamu (bukan) Jodoh (ku) ?

Diposting oleh Primasdiahap di 02.26


Jadi gini to rasanya mencintai tiba-tiba yang bahkan aku tak pernah menemuimu dalam nyata. Menatap mata, menggenggam tangan, bahkan melihat perawakanmu pun tak pernah. Anehnya aku mulai punya keyakinan dimana kamu bisa jadi imamku. Dan bahkan sudah jelas adanya kamu bilang kita tidak boleh membuat keyakinan itu. “Jalani saja..” katamu itu jadi peganganku, dan tentu aku mengikuti pernyataanmu itu. Suatu ketika, saat itu benar ada. KAMU sudah tidak mungkin ku jamah lagi. Harapan yang memang belum kupersiapkan kapan kan pupus ini. Ternyata harus berakhir. Saat ini. Walau sempat sebelumnya aku dibuatmu yakin bahwa aku tidak akan pernah salah untuk berharap padamu. Sesosok yang aku rasa dapat menjadi imam dalam keluargaku kelak. Penuh cinta, dewasa, pemimpin, sabar, pembimbing nan bijak, serta hangat ini sudah memilih wanita lain dibanding aku. Aku sadar, memang dari awal aku tak berniat untuk membuat harapan hidup bersamamu. Suasanalah yang membuatnya. Kini tepat ketika hampir 15 hari kamu terlihat berbeda, mungkin ini caramu mempersiapkan aku lepas dari candu kebersamaan. Aku tetap membawa erat harapanku sebelumnya. Masih sama. Pesan-pesanku yang kini hanya menjadi siluet dalam ponselmu itu tetap ada. Hanya saja kamu memastikannya selalu sirna tanpa jejak telah dibaca. Tetap saja aku masih menganggapnya normal. Hingga pada akhirnya kamu meyakinkan dengan kabar yang begitu membahagiakanmu dan membunuhku perlahan, menghindarkanku dari candumu yang begitu mengikat. Aku pengen nangis, serius.
“Aku lagi di bus, kebangun”
“Kemana?”
“ke Medan”
“Ngapain? Ok be carefull.”
“Ada acara”
“Acara apa? Tumben...”
“Nanti setelah acaranya selesai aku kasih tau kamu. Tahajud gih, biar barokah”
“Taaruf. Iyaa”
Dia membalasku dengan stiker meledek. Apa itu tandanya tebakanku benar? Taaruf? Fix. Finally that day already come. Aku belum siap tau bahwa hari ini aku harus merelakannya. Mau bagaimana? Mulai detik ini aku memang sudah seharusnya percaya bahwa jodoh benar ditangan Tuhan. Tak sepantasnya pula kita berharap dengan sesama. Karena sesungguhnya hanya Allah-lah yang akan selalu ada tanpa pernah meninggalkan kita.


Yogyakarta kala itu 12 Januari 2017 saat Primas sesak perlahan
Untuk orang Aceh yang sedang berbahagia di Medan 14 Januari 2017








0 komentar on "Apakah Kamu (bukan) Jodoh (ku) ?"

Posting Komentar

 
Reaching Dream of the Past Blogger Template by Ipietoon Blogger Template
Cute Hello Kitty 2