Jadi gini to rasanya
mencintai tiba-tiba yang bahkan aku tak pernah menemuimu dalam nyata. Menatap mata,
menggenggam tangan, bahkan melihat perawakanmu pun tak pernah. Anehnya aku
mulai punya keyakinan dimana kamu bisa jadi imamku. Dan bahkan sudah jelas
adanya kamu bilang kita tidak boleh membuat keyakinan itu. “Jalani saja..”
katamu itu jadi peganganku, dan tentu aku mengikuti pernyataanmu itu. Suatu ketika,
saat itu benar ada. KAMU sudah
tidak mungkin ku jamah lagi. Harapan yang memang belum kupersiapkan kapan kan
pupus ini. Ternyata harus berakhir. Saat ini. Walau sempat sebelumnya aku
dibuatmu yakin bahwa aku tidak akan pernah salah untuk berharap padamu. Sesosok
yang aku rasa dapat menjadi imam dalam keluargaku kelak. Penuh cinta, dewasa,
pemimpin, sabar, pembimbing nan bijak, serta hangat ini sudah memilih wanita
lain dibanding aku. Aku sadar, memang dari awal aku tak berniat untuk membuat
harapan hidup bersamamu. Suasanalah yang membuatnya. Kini tepat ketika hampir
15 hari kamu terlihat berbeda, mungkin ini caramu mempersiapkan aku lepas dari
candu kebersamaan. Aku tetap membawa erat harapanku sebelumnya. Masih sama. Pesan-pesanku
yang kini hanya menjadi siluet dalam ponselmu itu tetap ada. Hanya saja kamu
memastikannya selalu sirna tanpa jejak telah dibaca. Tetap saja aku masih
menganggapnya normal. Hingga pada akhirnya kamu meyakinkan dengan kabar yang
begitu membahagiakanmu dan membunuhku perlahan, menghindarkanku dari candumu yang
begitu mengikat. Aku pengen nangis, serius.
“Aku lagi di bus,
kebangun”
“Kemana?”
“ke Medan”
“Ngapain? Ok be carefull.”
“Ada acara”
“Acara apa? Tumben...”
“Nanti setelah
acaranya selesai aku kasih tau kamu. Tahajud gih, biar barokah”
“Taaruf. Iyaa”
Dia membalasku
dengan stiker meledek. Apa itu tandanya tebakanku benar? Taaruf? Fix. Finally that day already come. Aku belum
siap tau bahwa hari ini aku harus merelakannya. Mau bagaimana? Mulai detik ini
aku memang sudah seharusnya percaya bahwa jodoh benar ditangan Tuhan. Tak sepantasnya
pula kita berharap dengan sesama. Karena sesungguhnya hanya Allah-lah yang akan
selalu ada tanpa pernah meninggalkan kita.
Yogyakarta kala itu
12 Januari 2017 saat Primas sesak perlahan
Untuk orang Aceh
yang sedang berbahagia di Medan 14 Januari 2017
