Apakah cinta harus memilih tempat yang tepat untuk
menyebutnya cinta? Kala malam gelap gulita tak dapat lagi mengalahkan segala
apa yang dia rasa?
Tunggu! Aku ikut larut dalam pesonamu, maukah kamu
menghentikan seluruh pesona itu agar aku tak terlarut terbang lebih jauh bersamamu?
Sopan sekali kamu, aku kesulitan jika harus
mengklasifikasikan satu per satu tingkah sopanmu terhadapku atau siapapun. Dan sebutlah aku penggemar rahasia.
Waktu yang menari seakan tanpa pijak menjeratnya, tak lagi
berjalan lambat saat kegiatanku mengagumi sosokmu itu berlangsung. Dan kamu, 2 bulan lalu aku mendengar
namamu, melihat sosokmu, dan bertemu denganmu untuk pertama kalinya. Sesaat
setelah aku dinyatakan menjadi salah satu siswi SMA di sekolah (kita).
Waktu itu kamu, segala tentangmu begitu cepat absurd dalam
lautan otakku. Miliaran bahkan berlari begitu cepatnya hingga aku tak lagi
mampu mengingatnya satu per satu. Demikian..
Dan.. aku
hanya bisa mengarunginya perlahan hingga aku mendapati suatu titik, ya titik
jenuh menunggu usainya seluruh bayangan kisah manis yang ku harap sesegera
mungkin dapat mengakhiri seluruh cerita kita. Sesegera pula untuk
terkristalisasi menjadi kenangan manis diantara kita.
Maaf sebelumnya, aku
menyebut kita. Bolehkan? Aku memang sudah sangat lama menunggu kita untuk
menyebut aku dan kamu. Hingga saat ini bahkan sampai aku lelah, aku lebih dari
cukup untuk sekedar lelah. Lelah jiwa, lelah raga, lelah membuntuti kemauanmu,
lelah membuntuti keinginanmu, dan aku lelah mengikuti semua tentangmu.
Primas Diah Ayu Puspitasari

0 komentar:
Posting Komentar