Sabtu, 10 November 2012

Cerpen



Surat Untuk Sahabat
Terik  sinar matahari lepaskan aku dari jerat mimpi yang sempat menguasai malamku. Dengan posisi setengah sadar karena kantuk,  rasanya masih malas mengangkat tubuh dari ranjang tempat tidur. Untungnya hari ini hari minggu, jadi sekolah libur. Untukku penerapan prinsip awal harus selalu terlaksana. Apapun keadaannya, aku harus tetap langkahkan kaki untuk gapai sebuah mimpi. “Semangat dan bergegas bangun untuk menyambut pagi yang telah lama ku tunggu!” kataku sedikit keras pagi itu.
 Pagi itu awan ikut hadir menghiasi lapisan atmosfer bumi. Orang bilang hidup itu indah bila kita dapat memprektekkan perilaku pasukan semut yang sedang mengumpulkan persediaan makanan menjelang musim hujan dengan cara gotong royong, saling membantu dan berjuang bersama menjaga kekompakan tentunya.
Terkadang aku pun ingin menjadi satu diantara pasukan semut yang berlomba mencari makanan cadangan, dapat bersama-sama dengan sesama walaupun bukan saudara, ataupun ..
“Sinta, bangun nak sudah siang!” teriak ibu dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
“Iya, Sinta udah bangun kok bu.” Jawabku cepat. “Ah sedang asyik melamunkan pasukan semut dan semua kekompakannya, kenapa ibu mengagetkanku dengan teriakan membangunkanku. Padahal sudah dari tadi aku bangun,” dengan nada bicara sedikit menyesal aku bergegas keluar dari kamar.
“Kamu itu anak perempuan bangun jangan terlalu siang dong, bantu-bantu ibu kan bisa?”
“Iya, maafin Sinta bu. Sinta janji. Mulai minggu depan Sinta akan selalu bangun on time bu.”
Setelah acara sarapan bersama selesai, aku kembali ke kamar untuk membereskan seluruh isi kamarku yang rupanya sudah tidak nyaman untuk belajar. Tapi sebelum itu aku mandi dulu. Tak lama setelah mandi aku memulai kegiatan membereskan kamar beserta meja belajarku.
Dimulai dari tempat tidur.
Aku membereskan selimut, merapikan bantal dan gulingku. Setelah tempat tidur beres, aku mulai merapikan meja belajar. Di sela waktu merapikan, aku masih terbayang dengan lamunanku tadi pagi. Soal pasukan semut. Di depanku terlihat catatan diary kecil milikku 1 tahun lalu. Asyik membuka lembar demi lembar cerita masa lalu, hingga titik nostalgia menyapaku kala itu.
Halaman belakang diary itu masih kosong, dengan mempertahankan posisi melayang dengan pasukan semut tadi pagi. Ku ambil pena, dan menyertakan beberapa coretan di atas lembar terakhir diary milikku tadi. Karena dalam nostalgiaku, aku teringat sahabat bintangku yang akhir-akhir ini tak akrab denganku. Rasanya kami saling menjauh tanpa alasan jelas.
Hai, kamu.
Iya, kamu. Sebelumnya, maafkanlah aku, apabila kurang santun adanya. Ini, karena sungguhlah aku bimbang, hendak apa dan bagaimana, memanggilmu. Tiada berani aku langsung menyebut namamu. Itu seakan punya kekuatan magis yang mampu menggetar sukmaku. Entah, aku pun tak tahu mengapa.
            Jadi, bolehkah kamu tetap menjadi kamu?
            Sekarang,izinkan aku memasuki bagian surat yang pertama sesuai dengan kaidah-kaidah ahasa dan sastra, entahlah apa itu namanya. Ku harap kamu tidakbosan jadinya, karena aku akan sedikit berbasa-basi. Oh, tidak, bukan begitu maksudku. Menjadi suatu kehormatan dan senang sekalilah aku, bisa menanyakan dan mendengar warta tentangmu. Maka, aku akan bertanya:
‘Apa kabar?’
Ku harap, kamu selalu baik saja, seperti yang selalu didaraskan dan diharapkan oleh yang mengasihimu.
Intisari dari surat ini sebenarnya sederhana saja. Aku, hanya ingin menyapamu, santai, tanpa kaku ataupun keki bak kawan, atau apapun kamu anggap aku, aku tetap suka. Sembari, sedikit berceracau, bercerita tentang apa yang aku ingin curah-kisahkan, tentang kita.
Ya, tentang kita.
Kita, tahu sama tahu. Oke, mungkin kamu akan tidak setuju, karena sebenarnya tak ada ‘kita’. Cukup, paling jauh, aku mengenalku, dan kamu mengenalku.
 Sejak awal, aku tertarik akan dirimu. Bak magnet, kamu kutub utara, aku kutub selatan. Aku pun terpikat. Seperti yang sudah tersebutkan pula: kamu membawa pengaruh magis. Diri ini terhipnotis oleh tatap kilat, tawa, jail, segala polah, segala tampilanmu. Aku, tersihir olehmu seutuhnya, kala itu. Penasaran menggerayapi.
 Siapakah kamu?
 Rasa penasaran pun menuntunku untuk menduga-duga, berhipotesa, dan mencipta konklusi. Dan, kutemukan sebuah tanda doa dari orang tuamu: namamu.
 Sayangnya, sayang, aku tak kuasa menghentikan rasa itu sampai di sana. Aku haus akanmu. Segala keingin tahuan, pencarian, penemuan, bermuara pada satu tuju.
Aku ingin mengenalmu lebih dekat.
 Begitu besar pula inginku untuk menatap langsung dua bola matamu yang indah, namun tajam sorotnya lama. Aku malu, tak berani. Diam-diam saja ku lirik kamu, berharap mendapat balas, hingga sorot itu mengebor lubuk nuraniku. Dan, kita pun lalu saling berselam jiwa.
 Tapi, itu terlalu tinggi.
 Sudah cukup senanglah ku dengar namamu, suaramu, potongan-potongan cerita tentangmu, menapak tilas jejakmu di nyata dan maya secara sembunyi-sembunyi. Melihat potret dirimu, apalagi berpapasan langsung, sudah cukup membahagiakan untukku, walau itu membuat nafasku bak tertahan seketika, dan degub jangtungku tak karuan jadinya. Wah, apalagi jika kamu ajak aku bercakap, dan nanti terwujud tatap, kyaaaa! Bisa-bisa, jantung itu spontan meloncat dari dada ini!
Apa-apaan ini? Begitu berbunga-bunga rasanya, bahasa puitis menjabarkan. Namun, tetap diri ini tak mengerti, tak tahu apa rasa ini. Penuh Tanya, mungkinkah ….?
Upss. Tidak, tidak. Aku tak butuh jawaban. Walaupun turut penuh tanya, jugakah kamu, aku menolak jawaban. Bukan ranahku untuk masuk, atau jatuh terlalu dalam. Cukup.
 Biarkan hanya kupandang kamu dari jauh, lewat ekor mataku. Biarkan aku menghayati bayangmu, menggemari pesonamu.
Cukup begitu saja…
Salam diam-diam,
Pengagum rahasiamu

Jam menunjukkan pukul 15.00
            Gerimis mengakhiri surat untuk sahabatku, teriakan doa bersamaan dengan tetesan air yang basahi permukaan batuan bumi. Meniupkan harapan kepada Tuhan untuk pinta yang ingin terdengar.
Tuhan,
Bila engkau dapat satukan perbedaan ribuan semut
Aku hanya memohon satukan aku dengan sahabat bintangku
Bila sahabat bintang memang tak dapat kembali bersahabat denganku
Gantikanlah dia dengan orang yang Kau pilihkan untuk jadi sahabatku
Terima kasih atas karunia-Mu

0 komentar:

Posting Komentar

Sabtu, 10 November 2012

Cerpen

Diposting oleh Primasdiahap di 13.22


Surat Untuk Sahabat
Terik  sinar matahari lepaskan aku dari jerat mimpi yang sempat menguasai malamku. Dengan posisi setengah sadar karena kantuk,  rasanya masih malas mengangkat tubuh dari ranjang tempat tidur. Untungnya hari ini hari minggu, jadi sekolah libur. Untukku penerapan prinsip awal harus selalu terlaksana. Apapun keadaannya, aku harus tetap langkahkan kaki untuk gapai sebuah mimpi. “Semangat dan bergegas bangun untuk menyambut pagi yang telah lama ku tunggu!” kataku sedikit keras pagi itu.
 Pagi itu awan ikut hadir menghiasi lapisan atmosfer bumi. Orang bilang hidup itu indah bila kita dapat memprektekkan perilaku pasukan semut yang sedang mengumpulkan persediaan makanan menjelang musim hujan dengan cara gotong royong, saling membantu dan berjuang bersama menjaga kekompakan tentunya.
Terkadang aku pun ingin menjadi satu diantara pasukan semut yang berlomba mencari makanan cadangan, dapat bersama-sama dengan sesama walaupun bukan saudara, ataupun ..
“Sinta, bangun nak sudah siang!” teriak ibu dari luar kamar sambil mengetuk pintu.
“Iya, Sinta udah bangun kok bu.” Jawabku cepat. “Ah sedang asyik melamunkan pasukan semut dan semua kekompakannya, kenapa ibu mengagetkanku dengan teriakan membangunkanku. Padahal sudah dari tadi aku bangun,” dengan nada bicara sedikit menyesal aku bergegas keluar dari kamar.
“Kamu itu anak perempuan bangun jangan terlalu siang dong, bantu-bantu ibu kan bisa?”
“Iya, maafin Sinta bu. Sinta janji. Mulai minggu depan Sinta akan selalu bangun on time bu.”
Setelah acara sarapan bersama selesai, aku kembali ke kamar untuk membereskan seluruh isi kamarku yang rupanya sudah tidak nyaman untuk belajar. Tapi sebelum itu aku mandi dulu. Tak lama setelah mandi aku memulai kegiatan membereskan kamar beserta meja belajarku.
Dimulai dari tempat tidur.
Aku membereskan selimut, merapikan bantal dan gulingku. Setelah tempat tidur beres, aku mulai merapikan meja belajar. Di sela waktu merapikan, aku masih terbayang dengan lamunanku tadi pagi. Soal pasukan semut. Di depanku terlihat catatan diary kecil milikku 1 tahun lalu. Asyik membuka lembar demi lembar cerita masa lalu, hingga titik nostalgia menyapaku kala itu.
Halaman belakang diary itu masih kosong, dengan mempertahankan posisi melayang dengan pasukan semut tadi pagi. Ku ambil pena, dan menyertakan beberapa coretan di atas lembar terakhir diary milikku tadi. Karena dalam nostalgiaku, aku teringat sahabat bintangku yang akhir-akhir ini tak akrab denganku. Rasanya kami saling menjauh tanpa alasan jelas.
Hai, kamu.
Iya, kamu. Sebelumnya, maafkanlah aku, apabila kurang santun adanya. Ini, karena sungguhlah aku bimbang, hendak apa dan bagaimana, memanggilmu. Tiada berani aku langsung menyebut namamu. Itu seakan punya kekuatan magis yang mampu menggetar sukmaku. Entah, aku pun tak tahu mengapa.
            Jadi, bolehkah kamu tetap menjadi kamu?
            Sekarang,izinkan aku memasuki bagian surat yang pertama sesuai dengan kaidah-kaidah ahasa dan sastra, entahlah apa itu namanya. Ku harap kamu tidakbosan jadinya, karena aku akan sedikit berbasa-basi. Oh, tidak, bukan begitu maksudku. Menjadi suatu kehormatan dan senang sekalilah aku, bisa menanyakan dan mendengar warta tentangmu. Maka, aku akan bertanya:
‘Apa kabar?’
Ku harap, kamu selalu baik saja, seperti yang selalu didaraskan dan diharapkan oleh yang mengasihimu.
Intisari dari surat ini sebenarnya sederhana saja. Aku, hanya ingin menyapamu, santai, tanpa kaku ataupun keki bak kawan, atau apapun kamu anggap aku, aku tetap suka. Sembari, sedikit berceracau, bercerita tentang apa yang aku ingin curah-kisahkan, tentang kita.
Ya, tentang kita.
Kita, tahu sama tahu. Oke, mungkin kamu akan tidak setuju, karena sebenarnya tak ada ‘kita’. Cukup, paling jauh, aku mengenalku, dan kamu mengenalku.
 Sejak awal, aku tertarik akan dirimu. Bak magnet, kamu kutub utara, aku kutub selatan. Aku pun terpikat. Seperti yang sudah tersebutkan pula: kamu membawa pengaruh magis. Diri ini terhipnotis oleh tatap kilat, tawa, jail, segala polah, segala tampilanmu. Aku, tersihir olehmu seutuhnya, kala itu. Penasaran menggerayapi.
 Siapakah kamu?
 Rasa penasaran pun menuntunku untuk menduga-duga, berhipotesa, dan mencipta konklusi. Dan, kutemukan sebuah tanda doa dari orang tuamu: namamu.
 Sayangnya, sayang, aku tak kuasa menghentikan rasa itu sampai di sana. Aku haus akanmu. Segala keingin tahuan, pencarian, penemuan, bermuara pada satu tuju.
Aku ingin mengenalmu lebih dekat.
 Begitu besar pula inginku untuk menatap langsung dua bola matamu yang indah, namun tajam sorotnya lama. Aku malu, tak berani. Diam-diam saja ku lirik kamu, berharap mendapat balas, hingga sorot itu mengebor lubuk nuraniku. Dan, kita pun lalu saling berselam jiwa.
 Tapi, itu terlalu tinggi.
 Sudah cukup senanglah ku dengar namamu, suaramu, potongan-potongan cerita tentangmu, menapak tilas jejakmu di nyata dan maya secara sembunyi-sembunyi. Melihat potret dirimu, apalagi berpapasan langsung, sudah cukup membahagiakan untukku, walau itu membuat nafasku bak tertahan seketika, dan degub jangtungku tak karuan jadinya. Wah, apalagi jika kamu ajak aku bercakap, dan nanti terwujud tatap, kyaaaa! Bisa-bisa, jantung itu spontan meloncat dari dada ini!
Apa-apaan ini? Begitu berbunga-bunga rasanya, bahasa puitis menjabarkan. Namun, tetap diri ini tak mengerti, tak tahu apa rasa ini. Penuh Tanya, mungkinkah ….?
Upss. Tidak, tidak. Aku tak butuh jawaban. Walaupun turut penuh tanya, jugakah kamu, aku menolak jawaban. Bukan ranahku untuk masuk, atau jatuh terlalu dalam. Cukup.
 Biarkan hanya kupandang kamu dari jauh, lewat ekor mataku. Biarkan aku menghayati bayangmu, menggemari pesonamu.
Cukup begitu saja…
Salam diam-diam,
Pengagum rahasiamu

Jam menunjukkan pukul 15.00
            Gerimis mengakhiri surat untuk sahabatku, teriakan doa bersamaan dengan tetesan air yang basahi permukaan batuan bumi. Meniupkan harapan kepada Tuhan untuk pinta yang ingin terdengar.
Tuhan,
Bila engkau dapat satukan perbedaan ribuan semut
Aku hanya memohon satukan aku dengan sahabat bintangku
Bila sahabat bintang memang tak dapat kembali bersahabat denganku
Gantikanlah dia dengan orang yang Kau pilihkan untuk jadi sahabatku
Terima kasih atas karunia-Mu

0 komentar on "Cerpen"

Posting Komentar

 
Reaching Dream of the Past Blogger Template by Ipietoon Blogger Template
Cute Hello Kitty 2