Aku pernah rindu, bahkan ketika itu aku benar sangat merindu. Lalu pantaskah aku untuk tetap merindu padamu? Apabila kamu adalah suatu obyek pahit keseharianku. Mengapa pahit? Ya, pahit, karena aku kerap merindu yang tak pernah terjamah olehmu. Karena aku kerap membuang waktu untuk merindumu. Aku terlalu takut melangkah dan mengatakan rinduku padamu. Aku takut meletakkan penilaian tinggi akan sikapmu padaku. Aku tak mau seperti dahulu. Menerka setiap lekuk khayalku terjadi karenamu. Karena kamu adalah seorang yang tak pernah mau tau.
Bagaimana bila seorang yang mencintaimu pergi begitu saja?
Bagaimana? Iya, seperti yang aku lakukan kini. Aku telah banyak bersabar menunggu respon yang sangat aku harapkan darimu. Tapi sampai kapan? Apakah aku terlalu memautkan harapku padamu? Begitu besar? Iya, bahkan sangat besar jauh dengan apa yang kau pikirkan. Aku memang tak mudah melupakanmu sekalipun kamu membuat kepahitan dalam keseharianku. Dengan sikapmu. Sikapmu yang selalu melemah dengan segala wanita, yang selalu ada untuk mereka, dan yang selalu memamerkan segala kepahitan tersebut di hadapku. Sesak memang, luar biasa sesak rasanya. Tapi sejauh apapun kamu membuatku benci padamu, entah hukum apakah itu selalu saja hasilnya akan semakin kuat membentuk kekebalanku. Iya, hingga aku juga tak tau bagaimana cara melepaskan kamu dari pikiranku.
Bagaimana? Iya, seperti yang aku lakukan kini. Aku telah banyak bersabar menunggu respon yang sangat aku harapkan darimu. Tapi sampai kapan? Apakah aku terlalu memautkan harapku padamu? Begitu besar? Iya, bahkan sangat besar jauh dengan apa yang kau pikirkan. Aku memang tak mudah melupakanmu sekalipun kamu membuat kepahitan dalam keseharianku. Dengan sikapmu. Sikapmu yang selalu melemah dengan segala wanita, yang selalu ada untuk mereka, dan yang selalu memamerkan segala kepahitan tersebut di hadapku. Sesak memang, luar biasa sesak rasanya. Tapi sejauh apapun kamu membuatku benci padamu, entah hukum apakah itu selalu saja hasilnya akan semakin kuat membentuk kekebalanku. Iya, hingga aku juga tak tau bagaimana cara melepaskan kamu dari pikiranku.
Menunggu? Apakah ini yang di sebut dengan menunggu? Sudah tak
lagi melelahkan, karena titik terlelah sekalipun tak lagi hiraukan. Lalu
apabila titik terlelah saja sudah di tiadakan, bahkan meniadakan kehadiran
dengan sendirinya bak hukum alam yang memang sudah begitu saja terjadi, kembali
akan sampai kapan kegiatan ini berlangsung?

0 komentar:
Posting Komentar