Ngga usah kasiani aku,
ngga usah peduliin aku, ngga usah lakuin hal apapun buat aku, Stop! Stop! Stop!,
aku bilang stop! aku muak sama kamu !!
Masa lalu, masa dimana
semua ngga akan ke-ulang lagi. Aku ngga cuma nyesel ! bahkan lebih dari itu
..Tapi aku coba buat diem, karena nyesel ngga ada gunanya juga. Hari-hari
berjalan tidak seperti biasanya sebelum aku berubah. Berubah seperti layaknya
bunglon yang sedang berdaptasi dengan keadaan lingkungan sekitarnya. Sebelum
orang lain mengenal sisi lain dalam diriku, mereka menganggap keliaranku adalah
kepribadian asli diriku. Pahit rasanya bagai dituduh yang bukan-bukan. Aku
hanya mengalami perubahan sikap pada hal tertentu saja, tak lebih dari itu.
Kenapa? Kenapa kamu?
Kenapa kamu? Kalian? Aku benci mengapa aku harus bilang semua itu karena kalian.
Satu diantara kalian itu bintang. Bintang yang selama ini aku kangenin, bintang
yang selama ini aku puji, aku kagumi, dan yang entah sampai kapan masuk dalam
daftar orang-orang yang mendukung perubahan dalam diriku.
Apa ada yang
bener-bener bisa dengerin aku, aku janji kok cuma lima detik aja mau dengerin
ceritaku. Mau dengerin penjelasanku. Mau dengerin keluh kesahku. Mau jadi
tumpuan tubuh lemahku. Dan pastinya mau bertahan duduk di sampingku selama lima
detik itu saja. Ku mohon ….
Hari itu, lama banget
rasanya, ketika aku harus ketemu kamu, kamu, dan kalian lagi. Muka di tekuk,
nggak senyum. Hambar .. seperti nasi yang langsung masuk berguling-guling di
dalam lambung tanpa dikunyah sedikitpun. Aku malas sebenarnya bertemu kalian,
tapi apa boleh buat.
Sahabatku tercinta
pindah sekolah, dia yang biasanya ada di sampingku, mendegar, menegur, berbagi,
dan melengkapi lika-liku kisah di sekolah ini. Harus pergi mengejar
cita-citanya di pulau sebrang. Aku sempat sedih mengetahui hal itu. Tapi ini
hidup banyak orang, dan jelas berbeda. Aku belum sempat bercerita duduk bersama
pada bangku kesayangan kami berdua di ruangan itu. Ya ruang kelas kami IX A.
Karena waktu itu aku diharuskan mengikuti membekalan ilmu selama 3 hari di luar
sekolah. Tanpa mengira bahwa selang beberapa hari lagi dirinya pergi
meninggalkanku. Sedih!
***
Akhirnya banyak cara Tuhan yang kasih aku sadar, segera, secepatnya. Sahabat itu bukan orang yang selalu kita harapkan untuk mendengar, datang, lalu ada saat kita mau. Tetapi dia selalu stay saat apapun bentuk suasana maupun keadaan kita. Stay bukan karena di minta, namun … (silahkan bagi siapapun di luar sana pasti tahu kan jawabannya) jujur aku sulit menuliskannya.
#late

0 komentar:
Posting Komentar